Banyuwangi (beritajatim.com) – Ada buku berjudul Rebound Total. Buku tersebut mengupas tentang seputar perjalanan Banyuwangi era saat ini.
Karya Samsudin Adlawi itu mencoba dibedah dalam sebuah forum bersama Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cabang Banyuwangi bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang didapuk sebagai keynote speaker.
Bupati Ipuk dalam sambutannya cukup mengapresiasi atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan sebuah penghormatan atas kerja keras pemerintah daerah bersama seluruh masyarakat Banyuwangi.
“Terima kasih, kami sangat mengapresiasi, ini menggambarkan kerja keras pemda bersama masyarakat untuk rebound dalam menghadapi pandemi Covid-19,” ungkap Ipuk.
Baca Juga: Keren! Pameran Foto dan Bedah Buku ‘Tutur Mata’ Karya Anak-anak Disabilitas
Buku yang berupa antologi itu merefleksikan berbagai situasi aktual di bumi Blambangan. Mulai dari sosial, budaya, politik hingga pemerintahan. Tak terkecuali Banyuwangi Rebound yang dicanangkan oleh Bupati Ipuk.
“Saya sangat berterimakasih atas masukan-masukan konstruktif yang diberikan oleh Pak Samsudin ataupun pihak-pihak lain. Tak sedikit masukan yang kami terima kemudian menjadi bahan untuk kita kerjakan ataupun menyempurnakan yang telah ada,” terang Ipuk.
Tak ayal, Ipuk juga melecut semangat, ke depan semakin banyak bermunculan buku-buku serupa. Tujuannya tidak lain untuk memperkaya diskursus pembangunan di kabupaten ujung timur Jawa.
Baca Juga: Suporter Madura Bersatu Sambut Skuad Madura United di Banjarmasin
“Kami tunggu karya-karya para penulis dan intelektual Banyuwangi lainnya,” terangnya.
Guru besar ilmu pemerintahan sekaligus Ketua PW ISNU Jawa Timur Prof. Mas’ud Said turut hadir dalam acara tersebut. Dia menilai buku tersebut adalah sebuah bagian dari creative minority.
‘Sebenarnya, di dunia ini tak banyak orang yang ikut menentukan nasib suatu bangsa. Termasuk di Banyuwangi ini. Inilah yang disebut dengan Creative Minority. Saya kira buku ini adalah bagian dari hal tersebut,” ungkap Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA) tersebut.
Mas’ud menyebut, refleksi yang padat dan beragam dari buku tersebut, menjadi daya tarik tersendiri dari 62 artikel yang tersaji. “Di ranah akademik, masing-masing tulisan ini bisa dikembangkan lebih serius lagi,” katanya.
Baca Juga: Cara Banyuwangi Bahagiakan Anak Yatim, Anggap Mereka Titipan Tuhan
Sementara itu, Samsudin Adlawi menyebutkan jika karya tersebut didedikasikan untuk merekam beragam peristiwa di Banyuwangi tiap pekannya. Inspirasinya bisa datang dari beragam hal. “Seperti halnya saat berdiskusi dengan bupati dan lainnya. Ini menjadi inspirasi untuk menulis,” ungkapnya.
Diskusi tersebut berlangsung gayeng. Dihadiri oleh kalangan sarjana dan mahasiswa dari Banyuwangi. Juga terdapat rombongan doktor dan profesor dari Universitas Islam Malang (UNISMA).
Selain itu, juga dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi. Di antaranya adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Banyuwangi Suyanto Waspotondo yang juga didapuk menjadi narasumber. (rin/ian)






