Blitar (beritajatim.com) – Para peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar mengklaim tidak menggunakan gas Elpiji 3 Kilogram (Kg) untuk pemanas ruangan DOC (anakan ayam). Di tengah isu banyaknya penyalahgunaan gas Elpiji 3 Kg untuk industri peternakan, para peternak ayam petelur di Blitar dengan tegas membantahnya.
Suryono salah satu peternak ayam petelur asal Suruhwadang Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar mengungkapkan bahwa selama ini para peternak memilih untuk menggunakan gas Elpiji non subsidi. Menurutnya penggunaan gas Elpiji nonsubsidi berukuran 5 dan 12 Kg jauh lebih efisien dan lebih murah untuk digunakan dalam industri peternakan.
“Kalau pakai yang 3 Kg itu penuh resiko, terus kadang gas Elpiji 3 Kg itu tidak penuh jadi cepat habis sendirian jadi kami selaku pengusaha peternak juga hitung-hitungan dan ketemunya lebih murah yang Bright Gas,” kata Suryono, Jumat (28/7/2023).
Gas elpiji ini digunakan oleh para peternak untuk menghangatkan ruangan pembesaran DOC (anakan ayam). Biasanya proses ini berlangsung selama 20 hari.
Tingkat keperluan gas elpiji nonsubsidi 5 Kg untuk seribu ekor anakan ayam ini pun mencapai 10 tabung. Sehingga jika menggunakan gas Elpiji 3 Kg maka biaya produksi dari para peternak juga akan membengkak.
BACA JUGA:
Sugiri Sancoko Imbau ASN Ponorogo Tak Gunakan Elpiji 3 Kg
“Kalau pakai Elpiji 3 Kg itu biasanya malam-malam habis, kalau malam malah kita sendiri yang repot dan biaya juga pasti jadi lebih banyak,” ungkapnya.
Jumlah peternak ayam petelur di Blitar sendiri terus berkurang setiap tahun. Tercatat dari data Dinas Peternakan saat ini cuma ada sekitar 3.000 peternak yang masih aktif dari yang sebelumnya mencapai 4.500 orang.
Rata-rata ribuan peternak ayam petelur tersebut, hanya 2 kali melakukan pembibitan DOC selama setahun. Sehingga keperluan akan gas Elpiji juga tidak setiap hari.
Dengan hitungan waktu pembesaran DOC (anakan ayam) yang hanya sekitar 20 hari. Maka selama setahun hanya 40 hari saja peternak ayam petelur membutuhkan gas Elpiji.
Bahkan sejumlah sejumlah peternak besar yang ada di Blitar saat ini memilih untuk menggunakan listrik untuk sumber penghangat ruangan DOC. Para peternak ayam petelur di Blitar kini banyak beralih menggunakan sistem close house yang menggunakan listrik sebagai sumber penghangat ruangan DOC (anakan ayam).
Alasannya utamanya tentu lebih hemat biaya. Selain itu kemungkinan kematian ayam dengan menggunakan penghangat listrik jauh lebih kecil ketimbang gas Elpiji.
BACA JUGA:
Agen Elpiji di Blitar Raya Dapat Tambahan Pasokan 560 Tabung
“Paling sekarang yang menggunakan gas Elpiji itu peternak kecil kalau yang besar sudah pakai listrik semu, kan lebih murah juga lebih mudah dikontrol dan disesuaikan,” tutupnya.
Sementara itu, Polres Blitar akan menindak jika ditemukan pelanggaran penggunaan gas Elpiji 3 Kg untuk industri peternakan. Polres Blitar berpedoman pada aturan bahwa Elpiji 3 Kg tersebut hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan bukan untuk industri.
“Jadi semisal ada industri baik restoran ataupun pabrik yang menggunakan elpiji bersubsidi maka akan kami lakukan penindakan. Saat ini belum ada informasi tapi kalau ada laporan akan kami tindak lanjuti,” kata Kasat Reskim Polres Blitar, AKP M Gananta.
Secara umum kondisi gas Elpiji 3 Kg di wilayah Kabupaten Blitar masih terdapat kelangkaan. Namun pihak Pertamina dan juga Dinas terkait menegaskan bahwa stok gas Elpiji 3 Kg masih aman. [owi/beq]






