Malang (beritajatim.xom) – Ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dapat diwujudkan ke dalam berbagai hal. Salah satunya, tradisi encek-encekan yang digelar ratusan warga Dusun Umbulrejo Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.
Sebanyak 370 orang warga Dusun Umbulrejo, berkumpul di Sendang Kamulyan, sebuah nama yang diabadikan masyarakat sebagai tempat untuk menggelar do’a bersama.
Kepala Dusun Umbulrejo, Panenadi mengungkapkan, acara ence-encekan ini menjadi agenda rutin warga Desa Pamotan setiap tanggal 1 Syuro. Acara tersebut dipusatkan dikawasan sumber mata air Umbulrejo. Yaitu sebuah sumber mata air besar yang telah mengairi ribuan hektar areal persawahan warga Desa Pamotan, Kecamatan Dampit dan juga persawahan di desa sekitar.
“Acara ence-encekan ini juga disertai do’a bersama dengan tujuan agar masyarakat mendapat keberkahan serta limpahan rizki dari Tuhan Yang Maha Esa. Khususnya dalam menikmati sumber mata air, baik untuk lahan pertanian dan sumber kehidupan warga Desa Pamotan,” tegas Panenadi, Kamis (27/7/2023).

Menurut Paneadi, nama encek sendiri adalah sebuah benda yang terbuat dari belahan bambu dan pelepah pohon pisang. Hal itu bukan berarti warga Pamotan anti plastik dan kertas. Dengan menggunakan sarana dari bahan tumbuhan itu, sekaligus mengenang acara yang digagas oleh para leluhur sejak tahun 1926 silam.
Panenadi mengisahkan, sekilas tentang sejarah Sumber Umbulrejo. Menurutnya, pada tahun 1941 ketika sumber mata air disitu masih liar semburan air yang dasyat, semburannya laksana bunyi dengung pesawat terbang. Kemudian warga menimbun kawasan itu dengan menggunakan batu kali dan diangkut menggunakan kendaraan cikar.
BACA JUGA:
Pakar Tradisi Lisan UM: Gapai Tenteram Batin Malam Satu Suro
Guna memperkecil semburan mata air itu, warga menguruknya dengan menggunakan batu dan diangkut dengan kendaraan cikar. Kemudian di atasnya dipasang gong gamelan.
“Atas kebesaran Tuhan pencipta semesta alam, akhirnya semburan air bisa mengecil, meski kemudian bermunculan sumber-sumber mata air disekitar air sumber,” Panenadi mengakhiri. [yog/but]






