Banyuwangi (beritajatim.com) – Gas Elpiji kemasan 3 Kilogram (Kg) di Kabupaten Banyuwangi sedang langka. Tetapi, warga memilih rela untuk tidak masak ketimbang menggunakan bahan bakar alternatif.
Seperti dituturkan Siti Khotijah, warga Kampung Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Dia mengaku sudah empat hari terpaksa tidak masak dan memilih beli makanan di warung untuk kebutuhan keluarga.
“Saya tidak masak. Makan beli di warung,” kata Siti Khotijah yang ditemui saat mengantre gas elpiji 3 Kg.
Selain itu, Siti Khotijah juga mengaku terpaksa harus libur berdagang. Hal yang semakin memperparah kondisi warga.
BACA JUGA:
Ribuan Warga Banyuwangi Rebutan Gas Elpiji 3 Kg
“Biasanya jualan tahu walik, mie rebus di depan rumah tapi ini sudah 4 hari libur. Hari ini juga libur tadi ditanya sama tetangga, saya jawab mau antre gas dulu,” ungkapnya.
Namun saat tiba di lokasi operasi pasar bukan kemudahan yang didapat. Warga harus sabar mengantre demi satu tabung gas Elpiji 3 Kg.
“Saya tadi datang Jam 8.30 WIB, tapi di sini sudah antre orang. Ini baru dapat setelah antre sekitar 1 Jam lebih. Udah lama antre tapi dapatnya cuma satu tabung,” terangnya.
BACA JUGA:
Bupati Ipuk Fiestiandani Janji Kembangkan Paralayang di Banyuwangi
Ada beberapa syarat untuk mendapatkan gas Elpiji 3 Kg tersebut. Salah satunya wajib membawa foto kopi KTP.
“Ya tadi suruh nyerahkan foto kopi KTP, satu tabung harganya Rp16 ribu, dan tadi juga diminta untuk cap jari,” ujarnya.
Warga berharap kondisi ini dapat segera terselesaikan. Kebutuhan gas warga bisa tercukupi.
“Mahal nggak apa-apa asal stok setiap hari ada, jadi kami nggak susah,” pungkasnya. [rin/beq]






