Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto siaga menghadapi potensi kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang mungkin terjadi. Mengingat puncak kemarau di akhir bulan Agustus- September 2023 mendatang.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim mengatakan, dalam siaga Karhutla, pihaknya juga melibatkan Pemerintah Desa (Pemdes). Pemdes diminta untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat sebagai upaya antisipasi dan pencegahan kebakaran lahan.
“Masyarakat diimbau tidak membakar lahan yang dampaknya dapat memicu bencana kebakaran. Karena membakar lahan itu jelas tidak boleh karena dikhawatirkan bisa merembet dan memicu kebakaran besar. Seperti yang terjadi di wilayah Kecamatan Jetis beberapa hari lalu,” ungkapnya, Sabtu (22/7/2023).
Baca Juga: Bupati Mojokerto Minta Petugas Dispendukcapil Berpedoman Core Values ASN
Dua kasus kebakaran lahan terjadi dalam sehari. Yakni kebakaran tanaman tebu di Dusun Kedungklinter, Desa Canggu dan kebakaran lahan di pinggir ruas KM710/B Jalan Tol Jombang-Mojokerto, tepatnya di Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto yang terjadi pada, Rabu (19/7/2023) lalu.
“Kebakaran lahan di samping jalan tol dan lahan tebu itu kemungkinan unsur kelalaian sehingga menyebabkan lahan terbakar. BPBD mengintensifkan mitigasi sekaligus menyiagakan personel cepat tanggap kejadian bencana kebakaran. Kebakaran lahan sangat rawan apalagi menyusul puncak musim kemarau, Agustus nanti,” tegasnya.
Apalagi, lanjut Khakim, Kabupaten Mojokerto masih dalam status tanggap darurat bencana kekeringan dan Karhutla. Status tanggap darurat bencana kekeringan dan Karhutla tersebut berlaku sejak tanggal 1 Juni hingga 31 Oktober 2023 mendatang. [tin/ted]






