Ponorogo (beritajatim.com) – Tangis Evif Darmawanti, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Babadan, saat ini mungkin sudah mengering. Beberapa hari lalu, Ia menangis dengan tersedu-sedu. Kala dirinya menceritakan kepada awak media, bahwa sekolahnya tidak mendapatkan satu pun siswa dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2023.
Sang kepala sekolah dan guru lainnya, sebenarnya sudah memprediksi keadaan ini akan terjadi. Sebab, jumlah anak usia lulus taman kanak-kanak (TK) di Desa Babadan sangat sedikit. Otomatis, sekolah itu harus bersaing dengan sekolah dasar lain untuk mendapatkan siswa dalam PPDB tahun 2023 ini.
Ya, lulusan dari TK di Desa Babadan yang sedikit itu, menjadi salah satu penyebab, tidak adanya satu anak pun yang mendaftar di sekolah yang berada di Dusun Karangtalok tersebut. Padahal, dari segi prestasi, SDN 3 Babadan tidak kalah bersaing. Hal itu terlihat, dari cukup banyaknya piala-piala penghargaan yang berada di almari sekolah.
Selain permasalahan lulusan TK yang minim, SDN 3 Babadan juga harus bersaing untuk mendapatkan siswa baru dengan sekolah lainnya. Bagaimana tidak, dari luas desa sekitar 393 hektare, ternyata ada 3 sekolah dasar negeri (SDN) yang kokoh berdiri di sana. Letaknya pun saling berdekatan. SDN 1 Babadan hanya berjarak 1,7 kilometer dari SDN 3 Babadan. Bahkan SDN 2 Babadan dengan SDN 3 Babadan, hanya berjarak kurang lebih 750 meter saja. Namun, persaingan untuk mendapatkan siswa baru, tidak hanya berlaku dengan 2 sekolah negeri itu, mereka juga harus bersaing dengan lembaga pendidikan swasta yang baru berdiri.
“Lulusan TK itu sedikit untuk tahun ini. Kita juga tidak kurang-kurang untuk berusaha mendapatkan siswa baru. Dengan memberikan paket seragam gratis, bagi yang mendaftar di sekolah kita,” kata Evif Darmawanti, Kepala SDN 3 Babadan kepada awak media beberapa hari lalu.
Baca Juga: Sejumlah SDN Kekurangan Siswa, Bupati Ponorogo: Mungkin Jumlah Kelahiran Turun
Jalur pendaftaran dengan zonasi, juga semakin menyulitkan SDN 3 Babadan untuk mendapatkan siswa. Pasalnya, areanya semakin terbatas. Terbagi dengan 2 sekolah negeri lainnya yang masih dalam 1 desa.
Apalagi, dari pengamatan beritajatim.com, letak SDN 3 Babadan tidak seberuntung dengan 2 sekolah negeri lainnya di Desa Babadan. SDN 3 Babadan, bisa dibilang letaknya di pinggiran desa. Beda dengan letak SDN 2 Babadan yang berada di tengah-tengah desa. Tentu itu akan menjadi nilai lebih, karena aksesnya. Meski, tidak dipungkiri kalau SDN 3 Babadan juga mudah diakses. Sementara untuk SDN 1 Babadan malah berada di tepi jalan besar yang menghubungkan Ponorogo-Madiun. Tempatnya lebih luas dari SDN 2 dan SDN 3 Babadan.
Dua SDN negeri di desa itu, juga beruntung tahun ini masih mendapatkan siswa baru. Meski jumlah siswa yang diperoleh, masih jauh dari pagu yang ditetapkan tiap sekolah yang rata-rata berjumlah 28 siswa. Data dari Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, pada PPDB tahun 2023 ini, SDN 1 Babadan mendapatkan 4 siswa baru. Sedangkan untuk SDN 2 Babadan masih lebih banyak, yakni 6 siswa baru.
“Di sekitar SDN 3 Babadan itu, cuma ada 2 anak yang tahun ini lulus TK. Namun, oleh orangtuanya yang satu dimasukkan ke SDN 2 Babadan dan yang satunya di sekolahkan ke MI swasta di Ponorogo,” kata Muhammad Anas, Kepala Dusun Karangtalok.
Baca Juga: DPRD Ponorogo Minta Dindik Kerja Ekstra Soal SD Kurang Siswa
Menurut Anas, kekurangan siswa SDN 3 Babadan itu, sudah berlangsung kurang lebih 7 tahun terakhir. Keterbatasan cakupan wilayah, juga turut andil membuat sekolah tersebut kekurangan siswa. Anas menceritakan bahwa siswa dari SDN 3 Babadan itu, dulu kebanyakan berasal dari Dusun Karangtalok dan Dusun Kleco. Namun, anak-anak yang dari Dusun Kleco, saat ini kebanyakan pilih ke sekolah di luar desa yang lebih dekat. Praktis, hanya bergantung anak-anak dari Dusun Karangtalok, yang mana jumlahnya tidak begitu banyak. Bahkan, tahun ini hanya ada 2 anak. Namun, keduanya orangtua anak itu, sama-sama tidak menyekolahkan ke SDN 3 Babadan.
“Alasannya ya keamanan, kalau sekolah ke Desa Pondok, mereka tidak harus menyeberang jalan Ponorogo-Madiun yang saat ini bertambah luas dan banyak lalu lalang kendaraan,” katanya.
Batas waktu penerimaan peserta didik baru tingkat SD di Kabupaten Ponorogo sudah berakhir. Tidak hanya SDN 3 Babadan saja yang tidak mendapatkan siswa satu pun. Tercatat, ada 5 SDN dibawah naungan Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo yang tidak mendapatkan siswa. Yakni SDN Yakni SDN Jalen (Balong), SDN 2 Munggu (Bungkal), SDN 3 Babadan (Babadan), SDN 1 Duri (Slahung) dan SDN 2 Tegalombo (Kauman).
Nasi sudah menjadi bubur, mau ditangisi sampai kapan pun, tidak akan merubah keadaan. Terpenting, fokus untuk mengajar siswa yang ada sekarang. Sembari kembali mengatur strategi untuk tahun depan, supaya SDN 3 Babadan dapat siswa lagi. Jangan sampai berlarut-larut kekosongan bangku untuk ruang kelas 1.(end/ted)






