Banyuwangi (beritajatim.com) – Petik Laut Lampon tak sekedar perayaan semata. Kegiatan yang bertujuan sebagai wujud syukur para nelayan kepada Sang Pencipta itu justru telah berlangsung sejak puluhan tahun silam.
Nenek moyang masyarakat nelayan Lampon, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi telah memulai lebih dulu. Berdasarkan informasi masyarakat setempat, ritual dan tradisi Petik Laut Lampon berlangsung sejak 1927 atau 96 tahun lalu.
Ritualnya dilakukan setiap 1 Suro dalam penanggalan Jawa atau 1 Muharram pada tahun Hijriah. Dalam setiap tahun, Petik Laut Lampon nyaris tak pernah luput dari pelaksanaan.
Acaranya, para nelayan membuat sesaji berupa hasil bumi yang diletakkan di atas perahu kecil sebagai wadah. Dalam setiap sesaji biasanya terdapat ayam, makanan matang, ada pula bunga hingga potongan kepala sapi.
Selanjutnya jika sesaji telah siap, nelayan membawanya ke pinggir laut untuk dilakukan ritual. Doa bersama dan menggelar selamatan untuk kesejahteraan nelayan.
BACA JUGA:
Cara Nelayan Lampon Banyuwangi Syukuri Nikmat Sang Pencipta
Usai doa, sesaji kemudian diangkut ke atas kapal nelayan. Sesaji tersebut dibawa ke tengah laut untuk dilakukan pelarungan.
Dalam prosesi ini, biasanya ada sejumlah kapal nelayan lain yang mengiringi laju kapal pembawa sesaji. Tujuannya, para nelayan lain tersebut mengambil air atau sisa pelarungan sesaji untuk disiram atau diletakkan di kapal mereka masing-masing.
Konon, bagi nelayan yang percaya air lait di lokasi pelarungan maupun sisa sesaji akan membawa hoki tersendiri. Nelayan setempat juga meyakini jika hal itu akan berdampak pada keselamatan dan keberuntungan mereka selama beraktivitas di laut.
“Kami bersyukur bisa melaksanakan tradisi ini dengan lancar dan meriah. Ini semua berkat kerjasama dan kekompakan nelayan Lampon yang saling membantu dan bahu-membahu menyiapkan acara ini,” ungkap Ketua Panitia tradisi petik laut Lampon, Suharsono, Rabu (19/7/2023).
BACA JUGA:
Banyuwangi Punya Jurus Pencak Silat Pakai Sumping
Kegiatan Petik Laut Lampon ini biasa menyedot perhatian banyak warga. Tidak hanya sekedar warga nelayan setempat, melainkan warga lain yang ikut penasaran untuk melihat prosesi ini.
Pasalnya, dalam rangkaian prosesi Petik Laut, warga menggelar berbagai macam hiburan. Termasuk hadirnya berbagai macam bazar yang memanjakan para pengunjung yang datang.
“Pagelaran kesenian ini bertujuan untuk menghibur masyarakat nelayan yang sudah bekerja keras sepanjang tahun. Petik laut juga menjadi sarana silaturahmi dan kebersamaan antara masyarakat nelayan Lampon,” ujar Suharsono. [rin/beq]






