Malang (beritajatim.com) – Pakar Tradisi Lisan Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum., membagikan cara menggapai ketenteraman batin di malam satu Suro. Sebelum itu, Dwi menjelaskan terkait bulan Sura yang merupakan tahun baru Jawa.
Bulan Suro berasal dari ‘asyura dalam Bahasa Arab yang berarti kesepuluh. Tanggal 1 Suro dalam penanggalan Jawa bersamaan dengan 1 Muharam kalender Hijriah atau penanggalan Islam. Pada abad ke-17 Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja ke-3 dari Kerajaan Mataram Islam) menetapkan tahun Hijriah sebagai penanggalan muslim Jawa.
“Sistem penanggalan tersebut dikatakan penanggalan aboge singkatan Alip Rebo Wage yang menandakan tanggal 1 Sura dan 1 Muharam jatuh pada Rebo Wage. Namun pada tahun ini jatuh pada Rebo Legi atau Rebo manis,” kata pengajar, pemerhati, dan peneliti sastra lisan ini.
Hal itu, kata Dwi, menunjukkan adanya akulturasi budaya Islam dan budaya Jawa. Menurutnya, malam sura dianggap masyarakat Jawa sakral karena banyak yang melakukan tradisi untuk penyucian diri, mawas diri, mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Masyarakat Jawa melakukan laku spiritual dengan berbagai laku seperti tirakatan, melekan (tidak tidur semalam suntuk), jamasan pusaka, siraman (sembah raga dengan mandi dengan bunga setaman), berendam di pantai selatan yang percaya dengan Sang Hyang Widhi akan memberikan ketentraman batin,” ujar dosen Departemen bahasa Indonesia fakultas sastra UM ini.
Selain itu, masyarakat Jawa biasa melakukan introspeksi diri, renungan dengan laku spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu sebagai upaya mendekatkan kepada Tuhan. “Pada bulan Sura ini diharapkan masyarakat melakukan amalan-amalan baik dan selalu eling lan waspada,” tutur dosen yang menempuh S3 kajian budaya di Universitas Sebelas Maret ini.
BACA JUGA:
6 Tempat di Jawa Timur yang Ramai Dikunjungi Saat Malam Satu Suro
Pada malam Suro ada yang melakukan ritual dengan berbagai cara yang diyakininya. Ritual merupakan kata sifat dari rites, ritus mengandung kesakralan biasanya dilakukan dengan tata cara tertentu termasuk membaca doa pada momen tertentu. Ritual yang dilakukan ada ritual hening, ritual sujud, ritual racut.
“Ritual hening dilakukan dengan cara menenangkan pikiran dan fokus tertuju kepada Tuhan dalam suasana hening dan mengucap Tuhan Yang Maha Agung, Tuhan Yang Maha Adil dan bijaksana, Tuhan Yang Pemberi Rahmat dan dilanjutkan berdoa,” tutur intelek yang menempuh S1 di Sarjana Sastra Bahasa dan Sastra Indonesia UNDIP ini.
Kemudian, ritual sujud dilakukan dengan duduk bersila badan tegak lurus menghadap ke Timur dan tangan sedakep fokus pada satu titik, pikiran tenang sambal tunduk mengucap Hyang Maha Suci, Hyang Maha Kuasa tiga kali dilanjutkan mengucap Hyang Maha Suci mohon ampunan kesalahan hamba dilanjutkan berdoa sesuai keinginannya.
Sementara itu, ritual racut dilakukan dengan membungkukkan badan dan tidur membujur dengan posisi kepala di Timur dan kaki di Barat tangan sedakep dengan mengosongkan pikiran dan roh menghadap Tuhan, setelah tujuannya tercapai maka kembali lagi ke tubuhnya.
Dwi, sapaanya, menjelaskan soal beragam cara ritual masyarakat Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada juga yang melaksanakan selamatan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan memohon keselamatan dijauhkan dari marabahaya, malapetaka, maupun ancaman bencana.
“Masyarakat Jawa melakukan selamatan dengan menggunakan sarana atau ubarampe, sesaji, membaca mantra tentunya mempunyai simbol dan mengandung makna. Ketika masyarakat melaksanakan selamatan sebagai wujud menjaga keseimbangan alam makrokosmos. Manusia menjaga keharmonisan makhluk ciptaan Tuhan,” terang dosen kelahiran Tulungagung ini.
BACA JUGA:
Ponorogo Hidupkan Lagi Tradisi Mlaku Tirakatan Malam 1 Suro
Salah satu contohnya, tradisi malam 1 Sura di Gunung Kawi dilaksanakan selamatan dan membakar ogoh-ogoh yang digambarkan dengan Buto yang membawa sifat tidak baik seperti angkara murka, kekuatan buruk yang mempengaruhi manusia. Dengan dibakar harapannya memusnahkan hal-hal buruk, kejahatan, keserakahan sehingga masyarakat merasa nyaman, damai, tentram, dan sejahtera.
“Pembakaran ogoh-ogoh ini diadaptasi dari tradisi di Bali saat akan merayakan hari raya Nyepi. Adapun sesaji selamatan berisi tumpeng, ayam, sayuran, telor. Ubarampe dilengkapi dengan dupa dan membawa bunga untuk ziarah ke makam,” ungkap Dwi.

Ritual selamatan di Gunung Kawi pada malam Sura bertujuan untuk mendoakan Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono yang telah babad alas Wonosari sehingga menjadi sebuah desa yang tanahnya subur dan memberikan kehidupan masyarakat yang makmur.
“Selain itu, selamatan juga memohon keselamatan kepada Tuhan untuk masyarakat Wonosari,” lanjut dosen yang mengajar di UM sejak 1998 ini.
Rasa syukur tersebut, kisahnya, juga dimeriahkan dengan atraksi budaya dan arak-arakan kirab sesaji oleh masyarakat Wonosari. Sesaji yang dikirab sebagian diletakkan di pendopo agung pasarean Gunung Kawi dan sebagian dimakan bersama warga. Atraksi budaya juga menampilkan budaya Islam, budaya Jawa, dan Tionghoa dengan menampilkan barongsai, liang-liong, hadrah, jaranan, drumband. Atraksi ini digelar pada tanggal 1 Sura.
“Ketika Suro-an di Gunung kawi ini juga ada pagelaran Wayang Kulit untuk ruwatan yang membersihkan diri dari Sukerta supaya selamat dunia akhirat,” cerita Dwi dari hasil pengamatan di lapangan.
Kemudian, tanggal 1 Suro di Kecamatan Doko Trenggalek ada upacara ngitung batih atau menghitung anggota keluarga. Tujuan dari upacara ini agar keluarga dapat berkumpul dan membawa berkah. Upacara diawali dengan kirab para dayang dengan membawa takir plontang (takir yang dibuat dari daun atau janur berbentuk mangkok untuk tempat makanan.
Takir plontang berisi nasi, telor, sambal goreng, kacang goreng. Demikian pula di laut selatan ada tradisi larung sesaji berupa tumpeng dan ubarampenya. Ubarampe dalam selamatan Sura-an ini tidak terlepas dengan flora dan fauna, hasil pertanian dan peternakan.
“Ubarampe sesaji ritual Sura-an ada ingkung yang berasal dari bahasa Jawa Kuna manekung artinya memanjatkan doa. Kenapa dipilih ayam karena ayam merupakan hewan piaraan yang menyimbolkan kerukunan, kerjasama, memupuk kebersamaan,” ujar dosen pengampu sastra lisan di UM ini.
Di samping itu, sayuran sebagai hasil pertanian dibuat urap sebagai simbol adanya rasa, jiwa, karsa yang menyatu dalam raga manusia. Simbol kebersamaan, pahit, getir, manis, gurih menjadi satu dalam kehidupan.
Dalam tradisi ritual Sura an ini dapat dilihat bahwa keharmonisan manusia dengan alam semesta perlu dijaga karena saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. “Alam makrokosmos dikenal adanya alam kasad mata lan ala mora kasad mata sehingga manusia yang ada di tengah-tengahnya menjadi penyelaras agar ala mini tetap harmoni dan terjaga keseimbangan alam,” pungkasnya. [dan/beq]






