Gresik (beritajatim.com) – Petrokimia Gresik memasuki usia setengah abad lebih atau 51 tahun. Anak usaha PT Pupuk Indonesia (persero) itu membukukan laba bersih sebesar Rp 3,23 triliun di tahun 2022. Capaian tersebut juga tidak lepas dari inovasi BUMN yang beroperasi sejak tahun 1972.
Sejak beroperasi 51 tahun lalu, BUMN yang ber-home based di Gresik itu banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya perubahan regulasi pada pertengahan 2022.
Regulasi yang dimaksud yaitu Permentan nomor 10 tahun 2022. Dimana, awalnya ada lima pupuk yang masuk dalam skema subsidi, sekarang tinggal Urea dan NPK saja. Begitu juga dengan komoditas yang disubsidi dari semula ada 70 komoditas, sekarang hanya sembilan komoditas saja yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Semua itu menjadi tantangan kami untuk ke depannya. Tapi, dengan keyakinan, semangat, optimisme serta sinergi yang baik, kami optimis bisa dilalui dan dapat menjalani tahun 2022 dengan kinerja yang positif,” ujar Dirut Petrokimia Gresik, Dwi Satryo Annurogo, Selasa (11/7/2023).
Diakui Dwi Satryo, capaian laba sebesar Rp 3,23 triliun termasuk dalam sejarah atau terbesar selama beroperasi.
“Capaian semua itu tidak membuat kami berpuas diri. Ini karena perusahaan kembali dihadapkan pada rencana perubahan regulasi pupuk subsidi, yakni subsidi langsung ke petani (SLP). Hal ini semakin menegaskan bahwasanya persaingan di pasar komersil menjadi semakin terbuka,” ungkap Dwi Satryo.
Perihal program kelanjutan program Makmur Petrokimia Gresik., dijelaskan Dwi Satryo, program yang diinisiasi Pupuk Indonesia ini berhasil membantu meningkatkan produktivitas pertanian dengan realisasi mencapai lebih dari 92 ribu hektar atau sekitar 93% dari target tahun 2023 sebesar 99 ribu.
“Tahun lalu, realisasi Program Makmur Petrokimia Gresik mencapai 116% dari target, yaitu seluas 98.598 hektar dengan total serapan pupuk mencapai 63.779 ton. Capaian ini menunjukkan bahwa program ini merupakan wujud nyata solusi meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Ke depan, pihaknya juga telah menyiapkan strategi untuk mengubah tantangan menjadi peluang. Salah satunya menyiapkan program Smart Precision Farming.
BACA JUGA:
TPPI Produksi Orthoxylene, Industri Petrokimia Domestik Mulai ‘Merdeka’ dari Impor
Program ini adalah wujud komitmen Petrokimia Gresik dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan teknologi modern dan Internet of Things (IoT), penggunaan drone, implementasi produk berteknologi baru sehingga menghasilkan budidaya yang efektif, efisien, dan presisi menuju pertanian modern.
“Di tahun 2023 ini kami melahirkan pupuk teknologi nano pertama yang diproduksi di Indonesia yang akan diluncurkan dalam waktu dekat. Teknologi ini memungkinkan pupuk dapat terserap optimal melalui stomata daun sehingga lebih efektif penggunaannya,” pungkasnya Dwi Satryo. [dny/but]






