Madiun (beritajatim.com) – Warung di Jalan Sunan Malik Ibrahim, Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun itu dipenuhi motor. Puluhan motor terparkir di depan warung.
Saat masuk di dalam warung ada puluhan anak muda yang tengah menyesap kopi, makan mie instan, ada juga yang memakan cemilan kentang goreng.
Pegawai warung nampak lalu lalang sembari mengantarkan pesanan, ada pula yang mengangkut peralatan makan karena pelanggan sudah pergi. Ada yang sibuk bercanda dan mengobrol dengan teman satu meja. Ada juga yang sibuk mengerjakan tugas dan menghadap laptop. Sore menjelang malam, warung itu makin ramai.
Warung itu jadi salah satu lokasi yang digemari anak sekolah menengah hingga yang sudah kuliah. Harga makanan dan minumannya cukup bersahabat dengan kantong mereka. Kopi tawar saja hanya Rp2.000 per cangkir, untuk makanan berat, paling murah hanya Rp10.000.
Itu sudah dapat seporsi nasi, telur goreng, dan sambal bawang. Paling mahal Rp15.000, itu kalau lauknya ayam. Jika pesan mie instan biasa saja hanya Rp6.000 per porsi. Recomended untuk siswa dan mahasiswa.
Tempat duduknya outdoor dan semi outdoor. Ada yang beratap seng. Ada yang lesehan juga. Bukan seperti bangunan dengan tembok yang mewah, tapi sederhana dan konsepnya mirip ngopi di taman pekarangan rumah. Asik. Apalagi saat malam hari dan cuaca cerah.

Bukan tanpa sebab, ternyata konsep warung kopi sederhana itu dipilih oleh Gocha Arniansya (32) warga Kelurahan Pandeyan, Taman, Kota Madiun. Bersama dua kenalannya, Arif Budi Kusuma (30) warga Kelurahan Kelun Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun, dan Shauqi (30) warga Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun, mereka memilih konsep warung dengan segmen pasar siswa dan mahasiswa.
Lokasi warung yang dinamai Ishoma (istirahat, sholat, makan) itu juga dekat dengan Kampus Universitas PGRI Madiun (Unipma) Madiun, serta beberapa sekolah SMA-SMK. Namun, yang ngopi di situ juga termasuk anak-anak kampus lain yang berada di Kota Madiun.
“Sengaja kami konsep warung ya. Dengan harga yang murah meriah. Pasarnya memang anak-anak SMA-SMK juga mahasiswa. Lokasinya juga dekat dengan kos-kosan. Area keluarahan Kanigoro ini banyak yang bukas kos-kosan. Baik mahasiswa dan karyawan,” kata Gocha pada beritajatim.com, Sabtu (30/6/2023).
BACA JUGA:
Rekomendasi Warung Bakso Terenak di Madiun, Harga Cuma Rp5 Ribu
Ide untuk membuat warung itu muncul saat dia nongkrong. Sebenarnya, rekan joinannya yakni Arif dan Shauqi itu bukan teman sebayanya. Melainkan, keduanya adalah teman sang adik. Namun, obrolan mereka nyambung. Kebetulan, ada lahan kosong di dekat kampus dan kos-kosan. Mereka langsung nembung ke pemilik untuk menyewa. Si pemilik pun mengiyakan.
Di tengah pandemi Covid-19, tepatnya akhir 2020, ketiga pemuda yang berprofesi sebagai karyawan swasta dan freelancer itu memilih membuka warung. “Bagaimanapun memang orang Madiun, baik tua maupun muda memang suka nongkrong. Nah, kami buka warung karena lifetimenya lebih lama. Ketimbang buka coffeeshop. Karena ya itu tadi, warung kan lebih murah,” lanjut bapak satu anak itu.
Saat buka saat masih ada berbagai pembatasan dari pemerintah, Gocha dan rekan-rekan tetap menyesuaikan tempat duduk. Konsep membuat warung semi outdoor juga menyesuaikan ketentuan pemerintah yang masih mentoleransi kumpul-kumpul di ruang terbuka.
BACA JUGA:
Ganjar Pranowo Cangkruk Bareng Wali Kota Madiun Maidi di Warung Pak Sus
“Ditambah modalnya juga minimalis. Jadi ya sederhana. Perabotnya sederhana. Yang penting bisa buat ngopi, ngumpul,” kata pria alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia itu.
Kini warung itu langsung ngehits di Kota Madiun. Bukan soal tempatnya yang mewah, namun karena makanan murah dan lokasinya nyaman. Ada toilet lengkap dengan musala. Saat ini, sudah ada tujuh orang karyawan. “Kalau pas weekend atau ada libur tertentu, kadang namah karyawan yang paruh waktu. Untuk membantu temen-temen pas pelanggan ramai,” lanjutnya.
Kini, omzet per bulannya mencapai Rp60 juta rupiah. Gocha merasa itu cukup. Syukur kalau bisa lebih. Dia sendiri juga masih sibuk selain pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan swasta, dia juga mengurus coffee shop miliknya di Jalan Diponegoro, Kota Madiun. [fiq/suf]






