Surabaya (beritajatim.com) – Bagi umat Muslim yang terbiasa menjalankan puasa sunah Senin Kamis hingga puasa Daud, maka perlu mengetahui kapan hari diperbolehkannya puasa setelah Idul Adha.
Sebagaimana kita diketahui, puasa merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Selain mendapat pahala dari Allah, puasa juga bisa menjaga kesehatan tubuh.
Lalu, kapan diperbolehkan kembali puasa setelah Idul Adha?
Saat Idul Adha, umat muslim dilarang berpuasa. Sebab, umat Muslim dianjurkan untuk menyiapkan keperluan dan menikmati hidangan daging hasil kurban.
Larangan tersebut berlanjut hingga tiga hari setelahnya, yakni di tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah atau disebut juga dengan hari-hari Tasyrik.
BACA JUGA: Manfaat Kesehatan 6 Makanan yang Disebutkan dalam Alquran
Jadi, umat Muslim diperbolehkan berpuasa setelah hari Tasyrik selesai, yakni tanggal 14 Dzulhijjah. Apabila dilihat dari kalender Masehi, maka diperoleh berpuasa adalah mulai dari tanggal 03 Juli.
Lebih lanjut pembahasan mengenai hari Tasyrik. Dalam Islam, terdapat istilah hari tasyrik yang berarti tiga hari setelah nahar atau Hari Raya Idul Adha.
Pada hari tasyrik ini umat Muslim dilarang melakukan beberapa hal, termasuk puasa. Sebagai gantinya umat muslim dianjurkan menjalankan amalan tertentu untuk mendapatkan pahala.
Dirangkum dari sumber NU Online, berikut pengertian hari tasyrik, amalan yang bisa dilakukan, dan keutamaannya.
1. Pengertian Hari Tasyrik
Pengertian hari Tasyrik (أيام التشريق) merujuk pada tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha (hari nahar 10 Dzulhijah). Tiga hari tersebut jatuh pada 11, 12, dan 13 Zulhijah. Hari Tasyrik juga diartikan sebagai hari untuk makan dan minum.
BACA JUGA: 5 Tips Diet Sehat Saat Puasa, Salah Satunya Penuhi Asupan Karbohidrat Kompleks
Sedangkan apabila berdasarkan arti bahasa, Tasyrik berasal dari kata tasyriq yang berarti penghadapan ke arah sinar matahari.
Meski demikian, ada beberapa ulama yang memiliki pendapatan berbeda mengenai seberapa lama hari Tasyrik dilakukan.
Mengutip dari NU Online, beberapa ulama berpendapat bahwa hari Tasyrik berjumlah dua hari, sementara sebagian besarnya berpendapat tiga hari.
“Hari Tasyrik adalah sebutan bagi tiga hari (11, 12, 13 Zulhijah) setelah hari nahar (10 Zulhijah). Tiga hari itu dinamai demikian karena orang-orang menjemur daging kurban di waktu tersebut, yaitu mendendeng dan menghampar daging pada terik matahari” (Al-Imam An-Nawawi, Al-Minhaj, Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, juz IV).
2. Larangan di Hari Tasyrik
Ada larangan selama hari Tasyrik, yakni diharamkan berpuasa qada maupun puasa sunnah apa pun selama hari Tasyrik.
Hal itu telah dijelaskan dalam hadis riwayat Al Bukhari dan Muslim sebagai berikut:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَالنَّحْرِ. رواه البخاري ومسلم
“Nabi SAW melarang berpuasa pada hari raya fitri dan qurban Idul Adha.”
3. Amalan-amalan di Hari Tasyrik
Sebagai ganti larangan puasa, kamu bisa melakukan amalan-amalan berikut ini agar bisa mendapatkan banyak pahala dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah.
– Memperbanyak bacaan zikir, tahlil, tahmid, takbir
– Menyembelih hewan qurban
– Menikmati hidangan makanan dan minuman
– Melakukan amal ibadah saleh
– Membaca tasmiyah
– Membaca doa sapu jagad
(kai/nap)






