Idul Adha, diperingati setiap tanggal 10 Dzul Hijjah kalender hijriah (Islam), bersamaan dengan momentum pelaksanaan rukun Islam kelima, yakni ibadah haji di tanah haram, Makkah Al-Mukarramah.
Penamaan Idul Adha juga biasa disebut dengan Idul Nahr, artinya hari raya penyembelihan. Hal ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘Alaihima al-Salam, sekaligus menjadi ujian berat bagi keduanya yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak kalah penting, perayaan Idul Adha juga sebagai upaya memperingati ujian paling berat yang harus dijalani Ibrahim ‘Alaihi al-Salam, berkat kesabaran dan ketabahan menghadapi cobaan dan ujian tersebut, Allah memberikan anugerah dan kehormatan bagi Ibrahim sebagai Khalilullah atau Kekasih Allah.
Di antara beragam definisi, Idul Adha diartikan sebagai hari raya umat Islam dalam rangka memperingati peristiwa kurban, yakni ketika Ibrahim bersedia mengorbankan putra semata wayangnya, Ismail sebagai wujud kepatuhan kepada Sang Pencipta. Sekalipun pada akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba untuk dijadikan sebagai kurban.
Baca Juga: Idul Adha, Bupati Kediri Terjunkan Petugas Cek Daging Kurban
Adapun hikmah dari peristiwa kurban atau realita Ibrahim dan Ismail ‘Alaihima al-Salam, di antaranya menjaga totalitas dalam beribadah, menjalankan dan menaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, menambah keimanan dan ketakwaan, hingga berbagi bersama dengan kaum duafa.
Sementara hikmah dari ibadah kurban, antara lain sebagai bentuk syukur kepada Allah atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya, menghidupkan syariat Nabi Ibrahim yang patuh dan tegar terhadap perintah Allah, mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati mau membelanjakan hartanya dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari jajaran singkat di atas, sekaligus menandakan jika setiap kita adalah Ibrahim, Ibrahim punya Ismail, Ismail-mu mungkin jabatanmu, Ismail-mu mungkin gelarmu, Ismail-mu mungkin egomu, Ismail-mu adalah sesuatu yang kamu sayangi dan pertahanan di dunia ini.
Ibrahim tidak diperintah Allah membunuh Ismail, tapi hanya diminta membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail. Karena hakikatnya semua adalah titipan, dan semuanya milik Allah. Wallahu A’lam. [pin/ted]






