Malang (beritajatim.com) – Dosen Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (FS), Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Karkono, S.S., M.A., merilis novel berjudul Dawai Sunyi. Acara peluncuran novel yang ditulis bersama Alessia Rashed tersebut berlangsung di multi platform digital library, gedung Perpustakaan UM, Selasa (27/6/2023).
Kepala Perpustakaan UM, Nurenzia Yannuar, S.S., M.A., Ph.D menjelaskan bahwa peluncuran novel Dawai Sunyi dikemas melalui kegiatan bertajuk Kelasium (kelompok literasi asik UM). Tujuannya untuk meningkatkan literasi civitas akademika UM, sasarannya dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum.
“Kalau ke Perpus UM biasanya bawa kartu, bagi peserta Kelasium bebas, tidak harus membawa kartu. Ini sudah acara ketiga yang dilaksanakan UPT Perpustakaan UM. Namun, kegiatan yang pertama dan kedua difokuskan pada karya ilmiah,” kata Nurenzia saat diwawancarai.
Sesi ketiga ini, kata Renzi, dicoba lebih santai untuk penulisan karya fiksi. Acara kelasium ini juga diisi dengan kelas menulis fiksi yang bertajuk Mengasah Daya Imajinasi dalam Penulisan Cerita Fiksi oleh Dr. Karkono.
Sementara itu, pembahas novel Dr. Wawan Eko Yulianto menyebut setidaknya ada tiga hal yang menonjol dalam novel terbitan Jagat Litera tahun 2023 tersebut. Pertama, menurutnya, plot cerita sangat intensif dan digarap sangat padat banyak plot twistnya.
“Kedua, realitas yang digambarkan kekinian. Berbagai fitur kehidupan dalam novel ini, adalah hal-hal yang kita temui sehari hari seperti media sosial, dunia hiburan, tol trans Jawa, dan sejenisnya,” ujar dosen Universitas Ma Chung ini.
Kemudian yang ketiga, adanya usaha menarik ulur batasan genre, pada beberapa bagian. Setidaknya, ada aspek pertentangan antara feminitas dan feminisme dan sikap kepada poligami yang menjadi kompleks dalam novel Dawai Sunyi.

“Dengan tiga hal yang menonjol dari Dawai Sunyi ini, sepertinya cukup berasalan jika saya mengatakan bahwa novel ini adalah bagian dari sebuah genre yang cukup setia menggunakan konvensi genrenya. Namun, penggunaan konvensi genre ini tidak menjadikannya begitu saja mudah ditebak. Hal ini karena novel ini bisa menghadirkan isi di tempat tertentu yang menjadikannya khas. Plus, usahanya menggunakan bagian-bagian yang sensitif dalam genre roman populer juga menjadikan cerita ini sangat bisa dinikmati,” ujar Wawan soal novel.
Sementara itu, di sesi workshop, Dr. Karkono, menyampaikan soal strategi menulis prosa fiksi. Dia menekankan dalam menulis sejatihnya bukan cari ide, tetapi memilih ide.
” Ada sekian banyak inspirasi di sekitar kita yang bisa kita jadikan ide dalam menulis fiksi. Ada juga teknik hipogram yang bisa kita pilih. Hipogram adalah teks yang menjadi acuan bagi lahirnya teks baru,” katanya.
BACA JUGA:
2 Pemenang Sayembara Novel DKJ Bakal Buka-bukaan di Ngaji Sastra
Selain itu, Karkono menyarankan agar penulis fiksi mempetimbangkan berbagai aspek dalam menulis fiksi agar karya yang dihasilkan berkualitas dan enak dibaca, yaitu pembuatan judul, pembuka cerita, menentukan sudut pandang penceritaan, membuat plot, menciptakan konflik, diksi, tokoh – penokohan, eksplorasi latar, mengakhiri cerita, dan bagaimana mengakhiri cerita.
“Membuat akhir cerita juga membutuhkan teknik tersendiri. Ada akhir cerita bahagia. sedih. mengejutkan, melingkar, dan ada juga yang menggantung,” pungkas penulis yang sudah banyak menulis karya fiksi ini. [dan/but]






