Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur (Jatim) secara tektonik menjadi kawasan dengan tingkat aktivitas gempa bumi cukup tinggi di Indonesia. Kondisi ini lantaran Jatim berdekatan dengan zona tumbukan lempeng di Samudera Indonesia.
Selain itu, kawasan Jatim juga sangat rawan dengan gempa bumi akibat aktivitas sesar-sesar lokal di daratan. Sehingga, kondisi tektonik seperti ini menjadikan Jatim dan sekitarnya sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks.
Terbaru, gempa bumi bermagnitudo 4,7 mengguncang kawasan Kabupaten Malang pada Senin (26/6/2023) pagi. Gempa dirasakan sejumlah warga yang bermukim di Malang Selatan. BMKG Stasiun Geofisika Malang pun mengingatkan agar masyarakat tetap waspada, namun tidak perlu panik.
Tak hanya itu, wilayah Mojokerto pada Senin (19/6/2023) malam juga diguncang gempa dengan magnitudo 4,4. Pusat gempa berada di darat 7 kilometer Tenggara Mojokerto. Lalu, sebelumnya Pacitan juga diguncang gempa bumi pada Kamis (8/6/2023). Gempa dengan magnitudo 6,0 ini berpusat di laut 117 km Barat Daya Pacitan.
Jika dicermati, gempa bumi di Jatim terjadi secara beruntun, khususnya di wilayah Selatan atau pantai Selatan Jatim. Lalu, bagaimana pendapat pakar dengan adanya kondisi tersebut ?
Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo menjelaskan, bahwa gempa menjadi salah satu fenomena alam yang tidak dapat diprediksi, dihindari, dan dijinakkan. Sehingga, dampak yang ditimbulkan bisa sangat mengerikan.
BACA JUGA:
Gempa Magnitudo 4,7 Guncang Malang, BMKG Imbau Warga Waspada
Bahkan, perkembangan sains dan teknologi (saintek) hingga saat ini pun belum dapat menentukan prediksi secara pasti kapan terjadinya gempa-gempa tersebut. “Perkembangan sains dan teknologi untuk memprediksi kapan dan besarnya magnitude gempa, sampai saat ini masih belum bisa menentukan secara pasti,” jelas Amien kepada beritajatim.com, Senin (26/6/2023).
Menurutnya, gempa ini terjadi sebagai konsekuensi Indonesia ditumbuk oleh tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Pasifik yang bererak ke barat, Lempeng Samudera Hindia yang bergerak ke utara menyusup (subduksi) di bawah Lempeng Eurasia. Lalu, sepanjang batas lempeng yang menyusup ke bawah akan menimbulkan pergeseran dan patahan yang diikuti gempa, yang dikenal dengan gempa subduksi.
Amien memaparkan, bahwa tumbukan lempeng tektonik sudah berlangsung sejak jutaan tahun, dan lempeng ini bergerak dengan kecepatan 3-7 cm per tahun. Akibatnya, banyak gempa yang terjadi di kawasan tersebut.
“Berdasarkan kedalaman gempa subduksi ada tiga, yaitu gempa megathrust (300 km),” papar peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS ini.
Sementara hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang sangat aktif, seperti yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas). “Sejak tahun 1.700 zona megathrust selatan Jawa sudah beberapa kali terjadi aktivitas gempa besar (major earthquake) dan dahsyat (great earthquake),” ungkapnya.
Disebutkan, bahwa gempa besar dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi sebanyak 8 kali, yaitu tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), 1981 (M7,0), 1994 (M7,6), 2006 (M7,8) dan 2009 (M7,3). Sedangkan gempa dahsyat magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa terjadi 3 kali, yaitu tahun 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), dan 1943 (M8,1).
“Gempa tidak membunuh tapi bangunan bisa, sebuah ungkapan lama dan menjadi bagian tidak boleh dilupakan para perencana. Apalagi, di negara kita yang sudah mengalami gempa berulang-ulang yang diikuti kerusakan bangunan baik infrastruktur, gedung maupun bangunan rumah tinggal. Artinya, dalam perencanaan pembangunan harus berpatokan pada gempa terbesar yang pernah terjadi di kawasan tersebut,” tuturnya.
BACA JUGA:
Ramai Gempa Bumi di Mojokerto Jatim, Berikut Doa yang Bisa Dibaca
Terpisah, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto mengungkapkan jika sepanjang tahun 2022 lalu pihaknya telah mencatat sebanyak 2.283 kejadian gempa bumi. Besaran kekuatan gempa bumi yang dirasakan dalam skala intensitas bervariasi sebesar IIIV MMI.
“Gempa bumi dengan guncangan terkuat terjadi hari Sabtu, tanggal 7 Mei 2022. Gempa bumi tektonik itu mengguncang wilayah Kabupaten Lumajang,” ungkapnya.
Sementara data yang dihimpun beritajatim.com berdasarkan laporan Stasiun Geofisika Pasuruan pada periode Januari-Juni 2023, setidaknya terdapat 1.467 gempa bumi yang mengguncang wilayah Jatim. Terakhir gempa magnitudo 4,7 mengguncang wilayah Kabupaten Malang, Senin (26/6/2023).
Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar lokal. BMKG Stasiun Geofisika Malang pun mengingatkan agar masyarakat tetap waspada, namun tidak perlu panik. [ipl/but]






