Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalokasikan anggaran Rp 97 miliar dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2023. Targetnya menurunkan angka prevalensi balita stunted (tinggi badan menurut umur) di bawah 14 persen sesuai versi Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan RI.
Berdasarkan data SSGI 2022, prevalensi balita stunted di Jember adalah 34,9 persen. Peringkat kedua adalah Bondowoso dengan 32 persen, disusul Situbondo 30.9 persen. Sementara itu untuk rata-rata Jawa Timur adalah 19.2 persen.
Sementara data Dinas Kesehatan Kabupaten Jember berdasarkan hasil penimbangan balita dari FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) dan jaringannya menunjukkan prevalensi balita stunting di bawah SSGI, yaitu tercatat 11,74 persen pada 2021 yang menurun menjadi 7,37 persen pada 2022.
Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman mengatakan, upaya menurunkan tengkes dibahas dalam rapat koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), di Aula Dinas Pendidikan Jember, Kamis (22/6/2023).
“Kalau kita melakukan upaya biasa-biasa saja, hanya bisa menurunkan dua persen per tahun. Padahal SSGI kita 34,9 persen. Kalau dilakukan biasa-biasa saja, tentu akan memakan waktu lama. Tadi sudah dijabarkan percepatan ini. Tinggal kita meningkatkan perencanaan, anggaran, kualitas sumber daya manusia, dan evaluasi pelaporan,” kata Firjaun.
Firjaun berharap hasil rapat koordinasi ini bisa diturunkan dan dilaksanakan oleh TPPS tingkat kecamatan dan desa. “Termasuk regulasi terkait pengalokasian anggaran dana desa untuk penanganan stunting ini,” katanya.
“Kami berharap tahun ini (angka prevalensi stunting) di bawah 14 persen. Tidak hanya di bawah 20 persen. Kami yakin ketika komitmen kita tingkatkan, semua pimpinan baik organisasi perangkat daerah, lembaga, dan stakeholder yang ada, insyallah semua akan berjalan lancar,” kata Firjaun.
“Anggaran sudah ada penambahan, Rp 97 miliar tersebar di bawah beberapa OPD, baik Dinas Peternakan, Dinas Perikanan, Dinas Kesehatan yang semuanya khusus untuk penanganan stunting. Kalau ini tidak dikolaborasikan dengan baik, tentu akan sia-sia,” kata Firjaun. [wir]






