Pertandingan uji coba antara Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (18/6/2023) berakhir imbang 2-2. Namun pesan tifo mosaik di tribun utara, timur, dan selatan stadion lebih kuat daripada angka di papan skor elektronik: saatnya Persebaya juara Liga Indonesia.
Dalam usia 96 tahun, Persebaya sudah melewati lima fase sejarah. Fase perjuangan kemerdekaan terentang pada 1927-1949. Selama fase ini, prestasi bukan target utama. Klub-klub seperti Persebaya dibentuk dengan tujuan pembentukan identitas kebangsaan, terutama untuk menghadapi pemerintah kolonial Belanda.
Fase Perserikatan atau amatir berlangsung pada 1950-1993. Dalam fase ini, Persebaya identik dengan semangat, gengsi, dan fanatisme kedaerahan Jawa Timur, sehingga dibiayai anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) setiap tahun. Semua pemainnya dijanjikan menjadi pegawai pemerintah, minimal di perusahaan umum daerah. Juara perserikatan adalah target penting, terutama bagi pejabat dan kepala daerah, untuk dipamerkan sebagai prestasi. Selama masa ini, Persebaya sudah lima kali menjadi juara.
Fase ketiga, 1994-2010 adalah fase semiprofesional. Predikat semiprofesional bukan jaminan citra politik lepas dari wajah Persebaya. Persebaya memang sudah memiliki badan hukum bernama PT Persebaya Indonesia pada 2008.
Sejak saat itu, klub ini tak boleh menerima dana hibah dari pemerintah. Namun sebelum itu, Persebaya masih menerima dana hibah dari Pemerintah Kota Surabaya untuk biaya mengikuti kompetisi Liga Indonesia yang merupakan unifikasi kompetisi Liga Sepak Bola Utama (Galatama) dengan Perserikatan. Persebaya sudah dua kali menjadi juara pada 1997 dan 2004.
Fase keempat 2011-2016 adalah fase krisis dan perlawanan. Persebaya mengikuti Liga Primer Indonesia yang diprakarsai pengusaha Arifin Panigoro, dan mengalami dualisme setelah PSSI mengesahkan klub tandingan bernama sama. Pada masa ini, Bonek dan manajemen Persebaya lebih sibuk memperjuangkan eksistensi daripada prestasi.
Fase terakhir adalah fase sepak bola industri, sejak 2017 hingga saat ini. Sejak Azrul Ananda menjadi presiden klub dan Persebaya mengikuti Liga 1 pada 2018, revolusi internal terjadi. Hal pertama yang dibenahi Azrul adalah aspek komersial dan finansial klub. Selama bertahun-tahun mengikuti kompetisi sepak bola dengan dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Surabaya, manajemen Persebaya tak terbiasa dengan dua aspek itu.
Tak heran saat pemerintah melarang klub sepak bola profesional menggunakan APBD untuk pembiayaan kompetisi pada 2010, Persebaya kelimpungan. Cerita soal pemain terlambat digaji hingga manejemen mencari utangan sana-sini sudah bukan rahasia lagi.
Lima tahun berjalan, cerita itu tak terdengar lagi. Setiap awal musim, kini Bonek lebih disibukkan dengan pembicaraan soal siapa pemain baru Persebaya, berdebat soal harga tiket yang mahal tapi selalu ludes, atau soal jersey klub yang dijual resmi.
Perubahan yang luar biasa, mengingat sepuluh tahun lalu, Bonek masih memperjuangkan eksistensi Persebaya dan berhadapan dengan PSSI. Medio 2013, tak ada yang berani membayangkan Persebaya di bawah naungan PT Persebaya Indonesia akan bisa berkompetisi lagi. Hanya orang-orang yang keras kepala dan meyakini bahwa ‘kemenangan hanya soal waktu’ yang percaya Persebaya akan bisa bertahan di tengah dualisme.
Azrul selalu menekankan pentingnya bisnis yang berkelanjutan untuk menghidupi Persebaya. Setidaknya ada empat komponen pemasukan bagi sebuah klub sepak bola modern: tiket penonton, penjualan merchandise, bagi hasil hak siar televisi, dan sponsor.
Dari aspek jumlah penonton yang datang ke stadion, Persebaya selalu berada di urutan atas. Berdasarkan data Transfermarkt, Persebaya memiliki jumlah penonton terbanyak pada musim 2017-18, yakni 484.104 orang atau rata-rata 28.536 orang. Musim berikutnya, terjadi penurunan jumlah penonton menjadi 280.017 orang atau rata-rata 23.335 orang. Namun, jumlah ini masih masuk dalam empat besar.
Musim 2019-20, saat pertandingan baru berjalan tiga pekan dan dihentikan karena pandemi, dua pertandingan kandang Persebaya di GBT dihadiri 62.227 orang atau rata-rata 31.114. Musim 2022-23, jumlah penonton turun drastis menjadi 106.689 orang atau rata-rata 9.699 orang, karena sebagian pertandingan dilakoni tanpa penonton atau dilakukan pembatasan akibat peristiwa Kanjuruhan.
Potensi besar di stadion berbanding lurus dengan potensi besar dalam hal penjualan pernik-pernik klub seperti kaos dan syal. Website resmi klub melaporkan, hampir dua ribu potong jersey bertema anniversary Persebaya ludes terjual hanya dalam waktu sehari semalam pada medio Juni 2021.
Siaran langsung pertandingan Persebaya juga termasuk yang sangat diminati. Menurut situs resmi klub, rating televisi Persebaya sepanjang 2018 mencapai 95,20 dan berada di urutan ketiga setelah Persib dan Persija. Padahal saat itu adalah tahun pertama Persebaya berkompetisi di Liga 1.
Semua hal itu membuat sponsor yang menjadi faktor penting lainnya untuk menghidupi Persebaya mendekat. Posisi Persebaya sebagai klub sepak bola legendaris dengan jumlah pendukung sangat besar tentu saja menggiurkan secara bisnis. Perpanjangan kontrak kerja sama dengan PT Kapal Api hingga empat tahun ke depan, sebagaimana diumumkan Azrul dalam laga anniversary, cukup untuk membuktikan kekuatan Persebaya dalam menggaet sponsor.
Namun potensi besar itu tentu saja berhadapan dengan situasi sepak bola yang tak ideal. Biaya operasional pertandingan terhitung tinggi, terutama dari aspek pajak dan pengamanan. Pertandingan Persebaya dianggap berisiko tinggi, sehingga jumlah petugas keamanan yang diturunkan bisa ribuan orang.
Jadwal pertandingan pun bisa berubah sewaktu-waktu dan bisa digelar tanpa penonton atau pindah lokasi stadion dengan alasan beragam. Alasan yang sering digunakan adalah faktor keamanan. Ini membuat klub yang bergantung dari tiket pertandingan seperti Persebaya tak bisa memaksimalkan pendapatan. Ini tentu sebuah kerugian besar.
Pendapatan dari hak siar yang dibagi rata Rp 550 juta per bulan untuk masing-masing klub peserta Liga 1 musim 2022-23 tidak menguntungkan klub yang memiliki rating tinggi seperti Persebaya. Jam dan jadwal tayang televisi seringkali membuat klub mengorbankan potensi perolehan tiket pada pertandingan-pertandingan tertentu.
Sementara itu, situasi sosial politik ,yang berpotensi memunculkan ketidakpastian menjadi problem sepak bola Indonesia yang bisa membuat sponsor enggan mendekat. Tahun 1998, kompetisi terhenti karena gelombang aksi unjuk rasa. Tahun 2020, kompetsi terhenti karena pandemi. Tahun 2022, peristiwa Kanjuruhan sempat membuat sepak bola Indonesia dalam ketidakpastian. Kita berharap pemilu 2024 tidak mengganggu kompetisi.
Semua anomali ini membuat Persebaya tidak bisa membuat rencana jangka panjang, termasuk mengontrak pemain dengan durasi lebih dari satu musim. Sebuah rencana jangka panjang, baik secara bisnis maupun taktik, akan sangat menguntungkan Persebaya terutama dalam hal kesinambungan kehidupan klub.
Mengontrak pemain dalam durasi lebih dari satu musim membuat manajemen bisa menghemat dan tak terpengaruh dengan inflasi harga di bursa saham. Persebaya juga bisa menangguk keuntungan dari bursa transfer setiap musim dengan menawarkan pemain yang tak dibutuhkan ke klub lain dengan harga bagus. Selama ini Persebaya tak memperoleh apa-apa dari perpindahan pemain dengan durasi kontrak hanya setahun atau semusim. Bahkan klub ini harus kehilangan pemain-pemain pilar.
Dari aspek teknis, kontrak jangka panjang membuat komposisi tim Persebaya tidak banyak berubah dalam jangka waktu tertentu. Ini mempermudah pelatih menyusun skema permainan sekaligus menyolidkannya. Tim tak perlu mengalami perombakan total setiap musim. Perubahan besar-besaran komposisi pemain hanya akan membuat Persebaya labil dan selalu mengulang semua ikhtiar yang dilakukan dari nol setiap musim.
Perubahan besar-besaran komposisi tim ini sering disalahpahami oleh Bonek sebagai ketidakseriusan manajemen Persebaya dalam berkompetisi. Manajemen Persebaya dianggap lebih mementingkan aspek keberlanjutan finansial daripada prestasi dengan gagal mempertahankan pemain-pemain kunci setiap musim.
Dalam empat musim kompetisi, Persebaya selalu menembus enam besar atau papan atas. Musim 2018, Persebaya di urutan 5 dengan raihan 50 angka dari 14 kemenangan, 8 seri, 12 kekalahan. Mencetak 60 gol, Persebaya menjadi tim paling produktif kendati harus kebobolan 48 gol sepanjang musim.
Musim 2021-22, Persebaya kembali berada di peringkat 5 dengan raihan 63 poin dari 18 kemenangan, 9 hasil seri, dan 7 kekalahan. Mereka 56 kali mencetak gol dan 35 kali kebobolan. Jumlah gol ini terbanyak kedua musim itu, dan hanya terpaut satu gol lebih sedikit dari juara kompetisi Bali United.
Prestasi tertinggi Persebaya di Liga 1 adalah posisi runner-up musim 2019, di bawah Bali United. Saat itu Aji Santoso menggantikan Wolfgang Pikal pada pekan ke-26, dan berhasil membawa Persebaya melejit dari peringkat 10 klasemen sementara ke posisi pada akhir musim. Terpaut 10 angka dari sang juara Bali United, saat itu Persebaya mengepul 54 poin dari 14 kemenangan, 12 hasil seri, dan 8 kekalahan. Persebaya menjadi tim terproduktif kedua setelah Arema dengan 57 gol dan kebobolan 43 gol.
Persebaya meraih prestasi terburuk pada musim 2022-23 dengan menduduki peringkat 6. Alwi Slamat dan kawan-kawan hanya meraih 52 poin dari 15 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 12 kekalahan dengan mencetak 52 gol dan kebobolan 45 gol.
Sebenarnya target juara sudah dicanangkan pada musim 2020. Komposisi tim Persebaya saat itu adalah yang terkuat dibandingkan komposisi dua musim sebelumnya. Sebut saja nama Rivki Mokodompit di bawah mistar gawang, Makan Konate di posisi gelandang, Irfan Jaya, David da Silva, Patrich Wanggai, dan Mahmoud Eid di lini depan. Namun setelah menjalani dua pertandingan, kompertisi dihentikan karena pandemi.
Besarnya tuntutan Bonek kepada Persebaya untuk berprestasi sedikit-banyak memunculkan tekanan besar terhadap jajaran pelatih. Selama lima tahun terakhir, Persebaya bergonta-ganti pelatih, mulai dari Alfredo Vera, Djajang Nurjaman, Wolgang Pikal, Sugiantoro, hingga Aji Santoso. Namun hanya Aji yang dikontrak sejak 31 Oktober 2019 hingga 31 Maret 2024.
Data statistik Transfermarkt menunjukkan, kendati masa kepelatihan Aji terlama yakni 1.327 hari, capaiannya masih kalah dibandingkan Djajang Nurdjaman yang melatih selama 350 hari. Selama 350 hari menukangi Persebaya dalam 41 pertandingan, Djajang mencatatkan 21 kemenangan, 10 hasil seri, dan 10 kekalahan, dengan rata-rata poin 1,78 dan persentase kemenangan 51,22 persen.
Sementara Aji dalam 85 pertandingan, menghadirkan 42 kemenangan, 20 hasil seri, 23 kekalahan, dengan rata-rata 1,65 gol memasukkan dan 1,2 gol kemasukan. Rata-rata raihan poinnya 1,72 per pertandingan dan Persentase kemenangannya 49,41 persen.
Arek Malang ini harus membuktikan kepatutan kontrak itu musim depan. Perpanjangan kontrak atau berhenti sampai di sini akan tergantung banyak pada hasil akhir klasemen. Tahun 1997, ia menjadi kapten Persebaya saat menjuarai Liga Indonesia III. Kini ia memburu capaian Jacksen Tiago yang membawa Persebaya menjadi juara sebagai pemain dan pelatih.
Tak pelak, gelar juara adalah harga mati. Apalagi Azrul Ananda dalam pidatonya di hadapan 38 ribu penonton yang menyaksikan Anniversary Game sudah jelas mengucapkan target itu.
“Selama ini sepak bola Indonesia seperti di dalam terowongan gelap. Tidak jelas pintu keluarnya di mana. Sekarang kita sudah melihat cahaya di ujung terowongan. Persebaya bersama Bonek termasuk yang mendorong supaya itu terjadi. Karena itu insyaallah, kalau Tuhan mengizinkan, Persebaya ingin juara musim ini,” katanya.
Pidato singkat itu sedikit banyak menunjukkan keinginan Azrul untuk menjadikan capaian prestasi Persebaya sejalan dengan perbaikan kondisi sepak bola Indonesia. Revolusi manajerial yang dilakukan Azrul di tubuh Persebaya memang membutuhkan ekosistem kompetisi yang baik dan sehat.
Bukan rahasia lagi, jika sepak bola Indonesia identik dengan patgulipat dan permainan di bawah meja. Pengaturan skor, sogokan untuk perangkat pertandingan, pemain, dan bahkan pelatih, sudah lama terdengar dan sebagian sudah terbukti di meja hijau.
Selama lima tahun berkompetisi di Liga 1, Azrul menampik cara-cara lancung yang tidak saja menyebabkan sepak bola Indonesia tak sehat, tapi juga membebani klub dengan ekonomi biaya tinggi. Peristiwa Kanjuruhan yang berujung pada intervensi pemerintah terhadap sepak bola Indonesia agaknya menjadi awal optimisme Azrul.
Azrul sudah berhasil melepaskan Persebaya dari citra politik praktis yang sudah melekat sejak masa Perserikatan. Gelar juara akan membuktikan keyakinannya bahwa ‘cahaya terang sudah terlihat di ujung terowongan’. Seperti tiga kata dalam tifo mosaik Bonek di tribun utara.
Spirit of Champion. [wir]






