Surabaya (beritajatim.com) – Berikut sederet fakta sebuah mushola kuno atau surau yang dikenal dengan Langgar Dhuwur di Lamongan diusulkan sebagai objek bangunan cagar budaya.
Hal itu karena beberapa alasan, salah satunya karena bangunan ini syarat dengan sejarah penyebaran Islam dan telah berusia lebih dari satu abad.
Bangunan Langgar Dhuwur tersebut berlokasi di Jalan Kiai Amin, Kampung Kenduruhan, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan.
Langgar Dhuwur juga dikenal oleh masyarakat setempat dengan Langgar Panggung karena bentuk bangunannya menyerupai rumah panggung tanpa bangunan bawah.
BACA JUGA: Langgar Panggung di Lamongan Ini Berusia Lebih dari Seabad Masih Terpelihara Baik
Berkut beragam fakta yang berkaitan dengan Langgar Dhuwur di Lamongan. Mulai usianya hingga masih terjaga hingga sekarang.
1. Berusia Ratusan Tahun
Menurut pemerhati budaya Lamongan, Navis Abdurrauf, Langgar Dhuwur diperkirakan dibangun pada tahun 1919. Jika benar, maka mushola berbentuk panggung ini telah berdiri selama 104 tahun atau satu abad lebih.
2. Didirikan oleh Mbah Yai Mastur
Bangunan mushola kuno Langgar Dhuwur pertama kalinya didirikan oleh seorang tokoh berpengaruh di masyarakat. KH. Mastur Asnawi atau biasa dipanggil Mbah Yai Mastur mendirikan Langgar Dhuwur ini sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan.
3. Sebagai bukti sejarah penyebaran Islam
Langgar Dhuwur ini juga menjadi bukti sejarah tentang penyebaran agama Islam di Lamongan, khususnya sekitar bangunan ini berdiri.
Sebab, mushola ini tidak hanya sebagai rumah ibadah sholat, namun juga sebagai tempat belajar mengajar agama dan kegiatan keislaman lainnya.
BACA JUGA: Revitalisasi Rumah Kelahiran Bung Karno, Pemkot Surabaya Usung Konsep Kampung Kebangsaan
4. Bangunan dengan kontruksi kayu
Sebagaimana bangunan kuno pada masanya, Langgar Dhuwur masih menggunakan kayu sebagai kontruksi bangunannya. Bahkan lantai mushola juga menggunakan kayu yang tertata rapi sebagai pijakan para jamaah sholat.
5. Tiga kali alami renovasi
Meski telah tiga kali direnovasi, Langgar Dhuwur masih menunjukkan keaslian sejak berdirinya. Renovasi tidak merubah atau merusak bangunan lama.
Renovasi pertama yakni mengganti tiang penyangga panggung dari kayu menjadi cor semen. Renovasi kedua menambah tegel di lantai bawah mushola, dan renovasi ketiga penambahan tempat wudhu.
6. Tidak memiliki pintu utama
Uniknya, Langgar Dhuwur ini dibangun dengan tidak memiliki pintu utama. Terdapat dua pintu namun menuju ke gudang dan satu lagi menuju ruang penyimpanan.
Agar dapat masuk ke mushola ini, para jamaah lewat tangga bawah bagian selatan yang seluruhnya terbuat dari kayu.
7. Berbentuk panggung
Langgar Dhuwur berbentuk layaknya rumah panggung tanpa bangunan di bagian bawah. Model bangunan seperti ini mewakili kontruksi pada zamannya.
Hal tersebut dikarenakan era 1900an di lokasi sekitar Langgar Dhuwur merupakan tempat langganan banjir. Bangunan panggung merupakan solusi agar air banjir tidak masuk dalam rumah.
BACA JUGA: Tujuh Saksi Diperiksa di Sidang Dugaan Suap Hibah DPRD Jatim
8. Diusulkan sebagai cagar budaya
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan menyebut bahwa Langgar Dhuwur akan diusulkan sebagai bangunan cagar budaya.
Untuk itu, hingga saat ini masih dilakukan observasi lebih lanjut dan kajian akademis mendalam bersama tim ahli cagar budaya.
9. Masih jadi tempat kegiatan keagamaan sampai sekarang
Meski telah berusia lebih dari satu abad lamanya, Langgar Dhuwur masih menjadi tempat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
Tidak hanya untuk ibadah sholat berjamaah, namun juga digunakan sebagai tempat ngaji, dakwah, dan kegiatan belajar mengajar ilmu pengetahuan lainnya. (ian)






