Surabaya (beritajatim.com) – Ramadan merupakan bulan suci yang penuh berkah bagi umat Islam. Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat memiliki tradisi unik dalam menyambut kedatangannya.
Tradisi ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Berikut adalah tujuh tradisi menyambut Ramadan dari berbagai daerah di Indonesia:
1. Meugang – Aceh

Disebut juga Makmeugang atau Haghi Mamagang, tradisi ini sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh. Pada hari Meugang, masyarakat akan membeli atau menyembelih daging sapi atau kambing, lalu memasaknya untuk disantap bersama keluarga, kerabat, yatim piatu, atau kaum dhuafa.
Meugang menjadi simbol kebersamaan dan syukur atas datangnya bulan suci. Pemerintah Aceh bahkan menetapkan hari Meugang sebagai hari libur lokal. Tradisi ini diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2016.
2. Tradisi Malamang – Sumatera Barat

Di Sumatera Barat, masyarakat Minang menyambut Ramadan dengan tradisi Malamang, yaitu memasak lemang atau lamang, sejenis kuliner berbahan beras ketan yang dimasak dalam bambu. Lemang ini dimakan bersama keluarga dan dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk kebersamaan.
Selain sebagai ajang silaturahmi, Malamang juga memiliki nilai religius. Tradisi ini biasanya dilakukan di surau atau rumah gadang, diiringi dengan doa dan zikir bersama.
3. Tradisi Nyorog – Betawi

Di Betawi, ada tradisi Nyorog, yaitu kebiasaan mengantarkan bingkisan kepada orang tua atau sanak saudara yang lebih tua. Isi bingkisan biasanya berupa makanan seperti kue-kue, bahan makanan mentah (gula, susu, kopi, beras, ikan bandeng), atau kuliner khas Betawi seperti sayur gabus pucung.
Tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan keluarga dan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Selain itu, Nyorog juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong dan berbagi rezeki menjelang Ramadan.
4. Tradisi Munggahan – Jawa Barat

Masyarakat Sunda memiliki tradisi Munggahan, yang berasal dari kata “munggah” atau “naik”, melambangkan persiapan menuju bulan suci. Tradisi ini dilakukan satu hingga dua minggu sebelum Ramadan dengan kegiatan berkumpul bersama keluarga, saling bermaaf-maafan, dan makan bersama.
Munggahan juga sering diisi dengan ziarah kubur, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini masih sangat kuat di berbagai daerah di Jawa Barat.
5. Tradisi Nyadran – Jawa Tengah dan DIY

Nyadran merupakan tradisi ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta menjelang Ramadan. Kegiatan ini meliputi pembersihan makam, pembacaan doa, tahlil, dan makan bersama.
Nyadran dikenal juga sebagai Ruwahan, karena dilakukan pada bulan Ruwah (Sya’ban). Tradisi ini adalah hasil akulturasi budaya Hindu-Buddha dengan Islam, yang terus dilestarikan sebagai bagian dari budaya masyarakat Jawa.
6. Tradisi Megengan – Jawa Timur

Di Jawa Timur, tradisi Megengan dilakukan sebagai tanda menyambut Ramadan. Kata “megengan” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “menahan”, mengingatkan masyarakat akan kewajiban berpuasa.
Acara Megengan biasanya berupa kenduri atau selamatan, di mana masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama. Salah satu makanan khas yang selalu ada dalam tradisi ini adalah kue apem, yang melambangkan permohonan ampun sebelum memasuki Ramadan.
7. Tradisi Suru Maca – Sulawesi Selatan

Masyarakat suku Bugis-Makassar menyambut Ramadan dengan tradisi Suru Maca, yaitu doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sanro. Doa ini dilakukan untuk memohon keberkahan dan mendoakan leluhur.
Setelah doa, keluarga yang menggelar acara ini akan menyantap makanan khas Bugis-Makassar yang telah didoakan. Suru Maca menjadi simbol penghormatan kepada Tuhan dan bentuk persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik dalam menyambut Ramadan. Tradisi-tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk persiapan spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Dari Meugang di Aceh hingga Suru Maca di Sulawesi Selatan, setiap tradisi mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur. (fyi/ian)





