Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai provinsi dengan budaya yang kaya, tetapi juga sebagai lumbung ternak nasional. Sejumlah hewan ternak lokal dari wilayah ini telah mendapatkan pengakuan resmi sebagai sumber daya genetik (SDG) nasional.
Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, ternak-ternak ini juga mencerminkan kekayaan hayati dan kearifan lokal masyarakat Jawa Timur.
Dilansir dari akun media sosial Pemerintah Provinsi Jawa Timur, berikut ini 7 hewan ternak khas asli Jawa Timur yang telah ditetapkan sebagai rumpun ternak lokal Indonesia:
1. Sapi Madura
Sapi Madura merupakan ternak asli Pulau Madura yang telah ditetapkan sebagai sumber daya genetik nasional berdasarkan Kepmen Pertanian No. 3735/Kpts HK.040/11/2010. Populasinya mencapai lebih dari 653.000 ekor.
Ciri khas sapi ini antara lain tubuh berwarna merah bata kekuningan, kaki pendek, kuku dan moncong hitam, serta tanduk pendek dengan bentuk bervariasi. Sapi Madura dikenal tangguh dan mudah beradaptasi di lingkungan kering.
2. Sapi Galekan
Sapi Galekan berasal dari Kabupaten Trenggalek dan telah ditetapkan sebagai rumpun lokal melalui Kepmen Pertanian No. 617/KPTS/PK.020/M/09/2020.
Sapi ini memiliki dua varian warna utama, yakni cokelat muda dengan belang putih dan cokelat tua dengan garis hitam di punggung. Tanduknya bervariasi, serta memiliki daya tahan tinggi terhadap lingkungan tropis lembap.
3. Kambing Senduro
Kambing Senduro merupakan kekayaan genetik asli Kabupaten Lumajang. Penetapannya sebagai rumpun lokal dilakukan melalui Kepmen Pertanian No. 1055/Kpts SR.120/10/2014.
Kambing ini berwarna putih, bertubuh besar, dan dikenal sebagai penghasil susu yang berkualitas. Pejantan dewasa dapat mencapai bobot 100 kg, dengan cempe jantan usia 4 bulan mencapai tinggi 65–70 cm.
4. Domba Sapudi
Dikenal juga sebagai Domba Ekor Gemuk (DEG), Domba Sapudi berasal dari Pulau Sapudi, Sumenep. Domba ini telah diakui melalui Permen Pertanian No. 2389/Kpts/LB.430/8/2012.
Ciri khasnya adalah ekor besar berbentuk melengkung (sigmoid), kulit kasar, dan ukuran tubuh lebih besar dari domba biasa. Lemak disimpan di bagian ekor, membuatnya cocok sebagai ternak potong di daerah kering.
5. Ayam Gaok
Ayam Gaok atau Ghaok berasal dari Pulau Poteran, Madura. Merupakan hasil persilangan ayam hutan merah dengan ayam lokal, ayam ini telah ditetapkan sebagai rumpun lokal melalui Kepmen Pertanian No. 1056/Kpts/SR.120/10/2014.
Ayam jantan memiliki warna bulu hijau kekuningan dengan leher putih silver, sedangkan betina bercorak lebih beragam. Suaranya nyaring dan sering digunakan dalam kontes ayam kokok panjang.
6. Itik Mojosari
Itik Mojosari merupakan ternak unggas khas dari Desa Modopuro, Mojokerto. Telah diakui melalui Kepmen Pertanian No. 2837/Kpts LB.430/8/2012, itik ini unggul dalam produksi telur dan budidayanya sangat potensial secara ekonomi.
Ciri khasnya adalah tubuh ramping menyerupai botol, warna bulu cokelat kemerahan, serta bobot dewasa rata-rata 1,7 kg.
7. Sapi Rambon Banyuwangi
Sapi Rambon merupakan sapi potong lokal asal Kabupaten Banyuwangi yang resmi ditetapkan sebagai sumber daya genetik hewan lokal melalui Kepmen Pertanian No. 283/KPTS/PK.040/M/07/2024.
Meski berukuran kecil, sapi ini terkenal dengan daging berkualitas tinggi, daya tahan kuat, dan kemampuan adaptasi yang baik di berbagai medan.
Ketujuh ternak tersebut tidak hanya penting dari sisi ekonomi dan ketahanan pangan, tetapi juga memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi. (fyi)






