Surabaya (beritajatim.com) – Semakin berkembangnya popularitas drama Korea di dunia, tentu tidak lepas dari pengawasan dan pembicaraan publik. Khususnya akhir-akhir ini, beberapa forum diskusi pecinta drama Korea ada bahasan baru mengenai naskah dan alur drama yang berkaitan dengan budaya, topik, dan sejarah negara tertentu.
Setelah viralnya beberapa drama yang menyinggung negara lain, para penulis naskah drama Korea sering dianggap tidak sensitif terhadap produk ‘intelektualitas’ di negara lain. Hal ini tergambar jelas dalam adegan atau dialog dalam serialnya.
Kesalahan informasi sejarah hingga rasisme pernah dikaitkan di beberapa drama Korea. Berikut ini lima drama Korea yang pernah menghina negara lain lewat dialog maupun visualisasinya.
1. The Penthouse Season 3 (2021) – menghina orang kulit hitam
Pada salah satu episode drama “The Penthouse 3″, aktor Park Eun Suk muncul sebagai karakter baru yang bernama Alex Lee. Alex dalam naskah merupakan saudara dari karakter Logan Lee, yang juga diperankan Park Eun Suk. Alex divisualisasikan sebagai orang Korea yang lama tinggal di Amerika. Ia berbicara seperti gaya orang kulit hitam, tato di sekujur tubuhnya, berpakaian ala gangster dan hiphop, serta tatanan rambut dreadlock (gimbal).
Setelah siaran episode itu selesai, banyak pemirsa internasional menunjukkan reaksi yang negatif. Menurut mereka karakter Alex Lee digambarkan dengan cara yang dapat dianggap sebagai perampasan budaya. Karena itulah istilah cultural appropriation muncul dalam perdebatan ini. Ditambah karakter Alex Lee digambarkan sebagai antagonis yang senang mengancam orang lain. Ini membuat stereotipe buruk orang kulit hitam makin kental.
Akibat kritikan tersebut, Park Eun-seok dan SBS TV memberikan pernyataan maaf. Mereka menyatakan, “Kami tidak bermaksud mengejek ras atau budaya tertentu.”
2. Racket Boys (2021) – menjelekkan penyelenggara even Badminton
Drama Korea yang mengambil inti cerita mengenai Badminton ini, sempat viral di Indonesia. Pasalnya dalam salah satu satu episodenya, para karakter diceritakan bermain di stadium Istora Senayan Jakarta.
Namun ada beberapa adegan dan dialog yang membuat sebagian masyarakat Indonesia mengkritik drama ini. Karakter pelatih dan staf yang mendampingi atlet dari Korea membicarakan hal yang buruk. Mereka mengatakan bahwa penyelenggara event badminton di Indonesia berlaku tidak adil, dengan memberikan mereka penginapan dan fasilitas lapangan yang jelek. Ditambah, mereka menggambarkan suporter badminton Indonesia menghina atlet Korea yang berhasil memenangkan pertandingan.
Dirasa tidak sesuai dengan kenyataan, pecinta bulutangkis mengkritik dan meminta pertanggungjawaban kepada penyiar. Menanggapi ini, pihak TV sudah meminta maaf di kolom komentar Instagram.
3. The Man Who Dies to Live (2017) – menghina negara timur tengah
Man who Dies to Live mendapat pencekalan oleh masyarakat Arab dan juga orang yang beragama islam. Kontroversi drama ini berkaitan dengan adegan dan dialog yang diucapkan karakter.
Berkisah tentang pria asal Korea yang melakukan perjalanan ke wilayah Timur Tengah. Drama ini menunjukkan beberapa adegan yang dianggap salah dalam mempresentasikan budaya timur tengah, bahkan dianggap melecehkan agama. Mulai dari wanita berhijab yang mengenakan bikini hingga posternya yang menampilkan sang karakter utama menempatkan kakinya di sebelah Alquran.
Akibatnya, MBC selaku penayang meminta maaf langsung pada bagian pembuka episode kelima menggunakan bahasa Korea, Inggris, dan Arab. Enggak cuma itu, adegan-adegan serta poster yang memicu kontroversi pun dihapus dan ditarik dari peredaran.
4. Modern Farmer (2014) – menghina negara Vietnam
Drama Modern Farmer yang ditayangkan SBS, bercerita tentang kisah empat member band yang pindah ke desa. Kontroversi drama ini dimulai ketika adegan seorang ibu yang merendahkan perempuan Vietnam dalam sebuah dialog. Si ibu mengatakan kepada anaknya yang seorang pemabuk, “Dengan kebiasaan minum itu, bahkan jika kamu pindah ke Vietnam tetap tidak akan bisa menikah!”.
Pada waktu itu mahasiswa asal Vietnam dianggap sebagai komoditas bagi sebagian politisi Korea Selatan. Bahkan pada April 2021, Pemerintah Kota Mungyeong, Provinsi Gyeongsang Utara, membuat program untuk mendorong pernikahan para pria tua yang masih lajang dengan mahasiswi Vietnam yang sedang berkuliah di Korea Selatan. Kebijakan ini segera mendapatkan protes dari orang-orang Vietnam dan melaporkannya kepada Korea Women Migrants Human Rights Center dan Gong Gam Human Rights Law Foundation.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kpop”]
5. What’s Wrong with Secretary Kim (2018) – diskriminatif terhadap India
Salah satu adegan dalam drama komedi romantis dari tvN ini menyinggung negara India. Karakter utama yang menjadi presiden perusahaan mengancam karyawannya, bahwa jika ia tidak bisa bekerja dengan baik, maka akan dipindahkan ke India sebagai hukuman.
6. Backstreet Rookie (2020) – stereotip yang buruk mengenai negara Nigeria dan Jamaika
Drama ini sejak awal sudah dibumbui kontroversi adegan yang menunjukkan unsur sensual yang tidak sesuai rating umur penontonnya. Kemudian kontoversi berlanjut ketika ada karakter Han Dal-Sik seorang penulis webtoon. Ia digambarkan sebagai pria yang jorok berambut gimbal yang senang menggambar wanita telanjang, serta berdandan ala penyanyi reggae.
Ketika Han Dal-Sik sedang menjaga toko, datanglah seorang pria kulit hitam yang mengatakan bahwa dia adalah orang Nigeria. Namun, Dal-sik justru mengatakan bahwa mereka adalah “keluarga Jamaika”. Adegan itu kemudian menuai kontroversi karena Nigeria dan Jamaika adalah dua negara yang berbeda, dan bahkan dari benua yang berbeda. Netizen pun banyak yang mengecam tim produksi dengan mengatakan bahwa mereka tidak melakukan riset secara mendalam. Selain itu, mereka juga menganggap adegan tersebut sebagai momen rasisme karena hanya menyamakan Nigeria dan Jamaika berdasarkan warna kulitnya saja.
[berita-terkait number=”5″ tag=”drama”]
7. Little Women (2022) – distorsi sejarah negara Vietnam
Drama Little Women dikecam bahkan dihentikan penayangannya di Vietnam karena adanya dugaan distorsi sejarah. Hal ini terjadi pada salah satu adegan di episode 8. Menurut publikasi online Vietnam Express, Departemen Penyiaran, Televisi, dan Informasi Elektronik Vietnam menghapus serial tersebut dari Netflix di Vietnam karena menyajikan informasi yang menyesatkan tentang Perang Vietnam.
Dalam episode tersebut, ada seorang veteran perang dari Korea Selatan yang mengatakan dialog bualan tentang rasio pembunuhan antara pasukan Korea Selatan dan Viet Cong (tentara komunis). Veteran perang itu mengklaim masing-masing pasukan Korea telah membunuh antara 20 hingga 100 tentara Vietnam. Ia juga mengucapkan dialog ‘pasukan Korea adalah pahlawan Perang Vietnam’ yang memicu kemarahan para pencinta drama Korea di Vietnam. Faktanya dalam sejarah Vietnam, tentara Korea Selatan justru membunuh lebih banyak warga sipil Vietnam.
Menanggapi hal ini, pihak TV berjanji akan mempertimbangkan kepekaan sosial dan budaya, serta lebih memperhatikan produksi konten di masa depan.
Nah, itulah tujuh drama Korea yang dianggap menghina suatu negara. Dari sejumlah drakor tersebut, manakah yang kalian tonton? Bagikan pendapat kalian di bawah. (Kai/ian)






