Surabaya (beritajatim.com) – Pakar ekonomi dan investor peringatkan dampak inflasi yang tinggi. Biasanya kekhawatiran ini dimulai dengan pasar saham yang terus turun, dengan kemungkinan adanya resesi.
Tahun ini, kapitalisasi pasar untuk cryptocurrency juga telah menurun yang berdampak buruk pada Bitcoin. Padahal Bitcoin sering direkomendasikan sebagai jalan untuk melindungi diri dari nilai inflasi yang potensial.
Dengan berbagai kelas aset yang tersedia, sebenarnya tidak mudah untuk menentukan mana yang merupakan investasi terbaik untuk melalui tingkat inflasi yang semakin tinggi.
Namun agar membuat pandanganmu lebih baik, artikel ini memberikan rekomendasikan sektor apa yang harus diinvestasikan selama inflasi dan menjelaskan manfaat dan risiko yang kemungkinan terjadi dalam setiap asetnya.
1. Emas dan Perak
Berinvestasi dalam Emas dan perak selama inflasi membantu lindung nilai tukar terhadap inflasi. Kedua logam mulia ini secara historis hampir selalu membuat keuntungan yang solid di setiap kuartal, salah satunya karena pasar AS yang naik karena inflasi.
Emas dan perak jika dinilai dari dolar AS dapat memberikan keuntungan bagi investor saat nilainya jatuh dan menjadi lebih murah jika dibeli dengan mata uang lain. Perang geopolitik dan konflik sejarah secara konsisten mendorong harga emas lebih tinggi karena mata uang terdevaluasi.
Kita juga bisa memilih antara mau investasi pada emas saja atau perak saja. Karena beberapa faktor pada permintaan industri, perak secara historis naik lebih tinggi selama inflasi. Kita dapat secara fisik atau tidak langsung membeli aset ini melalui dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
2. Real Estat
Real estate adalah tanah dan semua bangunan fisik, termasuk semua benda yang melekat pada tanah tersebut, seperti gedung, pohon, dan pagar. Investor Warren Buffett pernah mengatakan, yang dikutip dari finance.com, bahwa salah satu investasi real estate yang menguntungkan adalah jembatan tol, terutama di negara-negara yang baru merencanakan pembangunan berkelanjutan pada wilayahnya. Jalan tol bisa terus beroperasi selama ada kendaraan yang melewatinya, baik itu sedang masa inflasi ataupun tidak.
Berinvestasi dalam persewaan properti memberi penghasilan yang jumlahnya bisa sangat jauh melebihi biaya overhead dan hutang, tergantung pada lokasi propertinya. Pastikan juga kita bisa menemukan hipotek dengan tingkat bunga yang tetap. Sehingga saat inflasi meningkat, jumlah amortisasi bulanan yang harus dibayarkan menurun.
Misalkan pembayaran hipotek sebuah rumah adalah sebesar 10.000 dolar atau senilai 140 juta rupiah. Saat ini, uang jumlah itu bisa untuk membayar 30 bulan kebutuhan sembako misalnya. Dalam 20 tahun, pembayaran hipotek akan tetap menjadi 10.000 dolar, tetapi jumlah itu mungkin hanya cukup untuk membeli sembako selama 8 bulan di masa depan.
3. Komoditas
Harga komoditas, seperti bahan bakar minyak (BBM), sangat menguntungkan untuk investasi selama inflasi. Harga gas sangat berpengaruh pada keadaan pasokan dan geopolitik dunia. Seperti beberapa waktu lalu, dimana invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan harga minyak melonjak karena negara-negara sepakat untuk menjatuhkan sanksi terhadap ekonomi Rusia. Kenaikan harga minyak juga mempengaruhi rantai pasokan global, industri penerbangan, dan bahkan belanja konsumen.
Apakah aset investasi ini merupakan pembelian yang baik selama inflasi? Komoditas sifatnya hampir mirip seperti logam mulia, logam industri, dan minyak yang biasanya memiliki harga yang paling kuat selama inflasi meningkat. Komoditas umumnya tidak berkorelasi dengan pasar saham, sehingga dapat berguna bagi investor saham yang ingin melakukan diversifikasi.
4. Obligasi terkait inflasi
Kita bisa memanfaatkan pengetahuan mengenai bagaimana mempersiapkan inflasi melalui obligasi yang berkaitan dengan inflasi. ILB adalah jenis obligasi yang nilainya meningkat selama periode inflasi. ILB memiliki pembayaran pokok dan bunga yang terkait dengan ukuran inflasi, seperti Indeks Harga Konsumen di AS atau Indeks Harga Eceran di Inggris.
Satu risiko yang dimiliki ILB adalah jumlah pokok dapat turun di bawah nilai nominalnya jika terjadi deflasi. Namun, banyak negara menawarkan dasar deflasi pada saat jatuh tempo untuk memastikan investor menerima nilai nominal penuh.
Selain ILB, investor juga dapat meneliti dana indeks obligasi agregat. Dana indeks ini mencakup semua jenis obligasi, termasuk obligasi pemerintah dan korporasi. Misalnya, berbagai ETF dan reksa dana melacak Indeks Obligasi Agregat Bloomberg.
[berita-terkait number=”5″ tag=”inflasi”]
5. Dana REIT
Perwalian investasi real estat atau REIT adalah perusahaan yang memiliki atau membiayai real estat yang menghasilkan pendapatan di berbagai sektor. REIT membeli dan mengembangkan properti terutama untuk mengoperasikannya sebagai bagian dari portofolio investasi mereka dan bukan untuk dijual kembali. Perwalian investasi ini memungkinkan investor untuk memasukkan real estat ke dalam portofolio mereka tanpa membeli real estat mereka sendiri.
Karena REIT didasarkan pada aset nyata, nilai investasi REIT kemungkinan akan meningkat karena tingkat harga keseluruhan terus meningkat. Dana REIT menawarkan salah satu investasi terbaik selama inflasi terutama karena kemampuan perwalian ini untuk meningkatkan pembayaran sewa dan sewa ketika harga konsumen meningkat.
6. Dana Indeks Saham
Dana indeks adalah portofolio saham atau obligasi yang mencerminkan kinerja indeks pasar tertentu. Hal ini menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mendapatkan eksposur di pasar investasi.
Dibandingkan dengan berinvestasi dalam satu saham, dana indeks memberikan keamanan lebih. Bergantung pada sektor yang menjadi fokus indeks, dana indeks dapat dianggap sebagai salah satu lindung nilai inflasi terbaik pada tahun 2022.
Itulah rekomendasi sektor Investasi selama masa inflasi yang tinggi. Meskipun tidak ada yang namanya investasi tahan inflasi, kita masih dapat mengurangi risiko dengan membuat pilihan cerdas untuk mengalokasikan dan mendiversifikasi dana dalam periode inflasi. (Kai/ian)






