Surabaya (beritajatim.com) – Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April, adalah waktu yang tepat untuk mengenang perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan.
Dalam semangat tersebut, menonton film yang menggambarkan perjuangan perempuan di Indonesia adalah cara yang sangat baik untuk menghargai dan memperingati pencapaian para perempuan dalam mengubah nasib mereka.
Berikut adalah 7 film Indonesia yang mengangkat tema perjuangan perempuan, yang penuh dengan inspirasi, semangat juang, dan pesan kuat mengenai emansipasi dan pemberdayaan perempuan.
1. Kartini (2017)
Film Kartini yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo adalah salah satu film Indonesia yang paling dikenal yang mengangkat kisah hidup R.A. Kartini, pahlawan emansipasi perempuan Indonesia.
Dibintangi oleh Dian Sastro sebagai R.A. Kartini, film ini mengisahkan perjalanan hidup Kartini yang berjuang melawan tradisi pingitan yang membatasi peran perempuan dalam masyarakat Jawa pada masa itu.
Kartini memimpikan adanya pendidikan yang setara untuk perempuan dan menentang pembatasan yang ada pada masa itu.
Film ini menggambarkan bagaimana Kartini menggunakan surat-suratnya untuk menyuarakan pemikiran dan perjuangannya, serta bagaimana ia akhirnya mengubah pandangan masyarakat terhadap peran perempuan dalam pendidikan.
Kartini bukan hanya tentang perjuangan seorang perempuan untuk dirinya sendiri, tetapi juga tentang bagaimana pemikirannya berhasil membuka jalan bagi generasi perempuan selanjutnya.
2. Siti (2014)
Siti (2014) adalah film drama Indonesia yang disutradarai oleh Eddie Cahyono dan diproduksi oleh Fourcolours Films. Film ini pertama kali ditayangkan pada Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014 dan mendapatkan berbagai penghargaan, termasuk Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2015.
Film ini mengisahkan tentang Siti, seorang ibu muda berusia 24 tahun yang tinggal di pesisir pantai Parangtritis. Setelah suaminya, Bagus, mengalami kecelakaan saat melaut yang mengakibatkan kelumpuhan, Siti menjadi tulang punggung keluarga.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan melunasi utang dari kapal yang hilang, Siti bekerja keras dengan menjual peyek jingking di siang hari dan menjadi pemandu karaoke di malam hari.
Kehidupan Siti penuh dengan dilema dan tekanan sosial. Ia harus merawat suami yang lumpuh, mengurus anak kecil, dan menghadapi pandangan negatif masyarakat terhadap pekerjaannya di karaoke. Namun, di tengah keterpurukan, Siti tetap berusaha tegar dan mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
Siti adalah film yang sangat menggugah hati, menunjukkan keberanian seorang perempuan yang tidak ingin menyerah meskipun banyak yang menganggapnya tidak berdaya.
Karakter Siti mengajarkan tentang ketahanan, keberanian, dan tekad kuat perempuan dalam menghadapi tantangan hidup, sekaligus menggambarkan perjuangan untuk mewujudkan impian di tengah keterbatasan.
3. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)
“Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” adalah film drama-thriller Indonesia yang disutradarai oleh Mouly Surya dan dibintangi oleh Marsha Timothy sebagai Marlina. Film ini mengangkat tema pemberdayaan perempuan dalam konteks budaya patriarki di pedalaman Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Film ini menggambarkan perjalanan Marlina setelah mengalami peristiwa traumatis Marlina, seorang janda yang tinggal sendiri di perbukitan sabana Sumba, didatangi oleh tujuh pria yang dipimpin oleh Markus.
Mereka berniat merampok harta dan memperkosanya. Marlina berhasil membunuh Markus dan beberapa pelaku lainnya. Marlina memulai perjalanan untuk melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwenang, membawa kepala Markus sebagai bukti.
Dalam perjalanannya, Marlina menghadapi berbagai tantangan dan bertemu dengan orang-orang yang meragukan kisahnya. Babak terakhir menggambarkan kelahiran kembali Marlina sebagai simbol kebebasan dan kekuatan setelah melalui penderitaan.
4. Yuni (2021)
“Yuni” adalah film drama Indonesia tahun 2021 yang disutradarai oleh Kamila Andini dan dibintangi oleh Arawinda Kirana. Film ini mengangkat tema perjuangan perempuan muda dalam menghadapi tekanan sosial dan budaya patriarki yang masih kental di masyarakat.
Yuni (diperankan oleh Arawinda Kirana) adalah seorang siswi SMA yang cerdas dan bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Namun, impiannya terhalang oleh tekanan dari lingkungan sekitarnya yang mengharapkan ia segera menikah setelah lulus sekolah. Yuni menolak dua lamaran dari pria yang tidak dikenalnya, yang kemudian memicu desas-desus tentang mitos bahwa perempuan yang menolak tiga lamaran tidak akan pernah menikah seumur hidupnya.
Ketika lamaran ketiga datang, Yuni dihadapkan pada dilema antara mengejar impiannya atau tunduk pada tekanan sosial dan mitos yang berkembang.
Yuni” adalah film yang menggugah dan relevan, menggambarkan perjuangan perempuan muda dalam menghadapi norma-norma sosial yang membatasi kebebasan dan impian mereka. Dengan sinematografi yang indah dan narasi yang kuat, film ini menjadi salah satu karya penting dalam perfilman Indonesia yang patut ditonton.
5. Athirah (2016)
“Athirah” adalah film drama biografi Indonesia yang dirilis pada 29 September 2016. Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduksi oleh Miles Films, film ini diadaptasi dari novel semi-biografi karya Alberthiene Endah tentang Hj. Athirah Kalla, ibu dari mantan Wakil Presiden Indonesia, M. Jusuf Kalla.
Berlatar di Makassar pada tahun 1950-an, film ini mengisahkan kehidupan Athirah (diperankan oleh Cut Mini Theo), seorang perempuan Bugis yang hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Namun, kebahagiaan itu terguncang ketika suaminya memutuskan untuk menikah lagi. Dalam budaya saat itu, poligami masih dianggap wajar, namun bagi Athirah, keputusan suaminya menjadi pukulan berat.
Athirah harus menghadapi rasa sakit hati dan penghinaan, sambil tetap menjalankan perannya sebagai ibu dan istri. Ia berjuang untuk menjaga keutuhan keluarganya dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, meskipun menghadapi tekanan sosial dan emosional yang berat.
Film ini menggambarkan kekuatan dan keteguhan hati seorang perempuan dalam menghadapi tantangan hidup, serta memberikan pandangan mendalam tentang budaya dan nilai-nilai keluarga di Indonesia.
Setiap film yang telah disebutkan di atas membawa pesan yang kuat tentang ketahanan, keberanian, dan perjuangan perempuan. Film-film ini menggambarkan perjuangan perempuan Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan, dari melawan ketidakadilan sosial dan patriarki, hingga memperjuangkan hak-hak dasar mereka, seperti pendidikan, kebebasan, dan martabat.
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, menonton film-film ini tidak hanya mengingatkan kita pada perjuangan R.A. Kartini, tetapi juga memberi inspirasi bagi perempuan masa kini untuk terus berjuang demi kesetaraan dan hak-haknya. [aje]






