Surabaya (beritajatim.com) – Kabar duka datang dari dunia sepak bola Indonesia. Pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022 terjadi kericuhan usai pertandingan Derbi Super Jatim antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Pertandingan Arema melawan Persebaya berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan tim tamu. Tidak terima dengan kekalahan Arema, suporter Aremania menyerbu ke lapangan usai peluit panjang ditiup wasit. Tragedi Kanjuruhan pun terjadi.
Pemain Persebaya langsung meninggalkan lapangan dan Stadion Kanjuruhan menggunakan empat mobil taktis Polri, barracuda. Sementara beberapa pemain Arema FC yang masih di lapangan lantas diserbu pemain.
Berikut sederet fakta terkait kericuhan yang terjadi usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dengan skor akhir 3-2 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
1. Tragedi Kanjuruhan Paling Mematikan Kedua dalam Sejarah Sepak Bola Dunia
Dengan banyaknya jumlah korban yang tewas, sepakbola Indonesia pun kembali menjadi sorotan dunia. Dan fakta yang paling menyedihkan adalah tragedi Arema merupakan pertandingan sepak bola paling mematikan kedua dalam sejarah. Semula, dikabarkan sebanyak 127 orang tewas dalam tragedi tersebut. Namun, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi Arema di Stadion Kanjuruhan, Malang bertambah menjadi 129 orang.
2. Jumlah tiket lebihi kapasitas
Panitia pelaksana (Panpel) mencetak tiket melampaui kapasitas. Menkopolhukam, Mahfud MD, mengatakan sebelumnya laga apparat sudah mengusulkan agar tiket dicetak sesuai kapasitas (sebanyak 38 ribu). Namun tiket yang dicetak adalah 42 ribu.
3. Pertandingan dilakukan di malam hari
Pihak Kepolisian ternyata sudah meminta Arema FC vs Persebaya Surabaya digeser ke sore hari. Ini bagian usaha dari mitigasi karena makin malam maka tingkat kesulitan pengamanan makin meningkat. Tapi, usulan itu ditolak oleh PT Liga Indonesia Baru. Menkopolhukam, Mahfud MD, juga mempertanyakan mengenai keputusan PT LIB dan Panitia Pelaksana pertandingan Arema FC tetap menginginkan kickoff malam hari.
“Sebenarnya sejak sebelum pertandingan pihak aparat sudah mengantisipasi melalui koordinasi dan usul-usul tenis di lapangan. Misal, pertandingan agar dilaksanakan sore (bukan malam), jumlah penonton agar disesuaikan dengan kapasitas stadion yakni 38.000 orang. Tapi usul-usul itu tidak dilakukan oleh Panitia yang tampak sangat bersemangat. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan ticket yang dicetak jumlahnya 42.000,” kata Mahfud dalam rilis kepada pewarta.
Namun pertandingan ini tetap digelar pada pukul 20.00 WIB.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sepakbola”]
4. Penonton invasi lapangan
Setelah laga berakhir (Arema 2-3 Persebaya), penonton Arema yang kecewa dengan kekalahan ini kemudian menginvasi lapangan. Kerusuhan bermula dari adanya satu orang Aremania dari tribun selatan yang nekat masuk ke lapangan dan mendekati pemain Arema Sergio Silva dan Adilson Maringa. Sang suporter mencoba memberikan motivasi dan kritik kepada pemain Arema.
Aksi satu orang suporter ini kemudian diikuti beberapa Aremania lain yang masuk ke lapangan guna meluapkan kekecewaannya kepada pemain. Jumlah suporter yang masuk ke lapangan semakin banyak dari berbagai sisi stadion. Suporter juga mulai melemparkan benda-benda ke lapangan.
5. Polisi tembak gas air mata
Ribuan penonton yang menginvasi lapangan membuat polisi kewalahan. Petugas keamanan langsung berusaha menghalau serbuan suporter ini. Untuk mengusir suporter, ditembakkan gas air mata. Namun kondisi justru menjadi semakin kacau. Akibatnya banyak penonton yang mengalami sesak nafas dan terjadi penumpukkan di pintu keluar stadion. Di FIFA Stadium Safety and Security Regulations, senjata api dan gas air mata dilarang dibawa dan digunakan untuk mengontrol massa. (eve/ian)






