Surabaya (beritajatim.com) – Quraish Shihab mendefinisikan cinta sebanding dengan hidup. Hal itu dikarenakan cinta merupakan kebutuhan yang mendasar, dimana tidak jarang orang yang putus cinta dan kehilangan harapan atas cinta memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Sebegitu besar kekuatan cinta hingga mengantar seorang suami atau ayah membanting tulang demi menafkahi anak dan istrinya.
Bahkan, terkadang hingga melebihi apa yang dibutuhkan oleh anak istrinya. Cinta juga mendorong seorang wanita atau istri dengan ikhlas merawat anak dan mendampingi suaminya.
Begitu besar peran dan kekuatan cinta dalam sebuah hubungan antara manusia, sehingga cinta patut untuk dipupuk dan dipelihara agar selalu mekar.
Berikut ulama dan cendekiawan ternama, Quraish Shihab membagikan cara agar cinta terpelihara dalam hubungan.
Kesetiaan
Hal yang mendasar agar cinta terpelihara adalah dengan menanamkan kesetiaan. Cinta yang kesetiaannya ternoda bisa mengubah cinta menjadi benci, begitulah menurut Quraish Shihab.
Menurut beliau, jika kesetiaan salah-satu dari pasangan padam, maka hubungan akan diselimuti dengan kegelapan. Namun, dalam hal ini, ia berpendapat bahwa, adanya ketidaksetiaan salah-satu pihak, tidak boleh menjadi pembenar pihak lain untuk melakukan hal yang serupa. Sebab, cinta yang berasal dalam hati semestinya diliputi dengan kesetiaan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Penghormatan
Penghormatan yang dimaksud oleh Quraish Shihab dalam hal ini adalah pengakuan eksistensi seseorang dan hak-hak yang ada pada dirinya.
Menurutnya, cinta adalah kesepahaman dan kesepahan tidak harus melahirkan kesepakatan antara kedua pihak, melainkan justru harus melahirkan penghormatan.
Tidak mengenal istilah ‘gengsi’
Menurut Quraish Shihab, dalam cinta seharusnya tidak mengenal kata gengsi. Banyak orang gengsi melakukan sesuatu yang romantis atau merengek pada pasangannya dikarenakan takut kehormatannya luntur.
Masih menurut beliau, kehormatan pecinta tidak bertentangan dengan sikap merengek kepada pasangan atau kekasih.
Tidak ada istilah rendah diri
Menurut beliau, sikap rendah diri jika di dalam hubungan kekasih disebut dengan kerendahan budi.
Itu berlaku juga bagi sikap lemah-lembut, pemaaf dan uluran kasih saat ditemuinya adanya kekurangan dari pasangan.
Sifat itu jika melekat pada suami kepada istrinya tidak dinamakan bentuk rendah diri, melainkan kerendahan budi, begitu sebaliknya. Bahkan sifat-sifat kelemah-lembutan di atas, disebutkan oleh Allah dalam QS. Al Baqarah ayat 288, sebagai bagian dari derajat lelaki.
Kesediaan mengalah
Tidak ada cinta tanpa adanya kesediaan untuk mengalah, bahkan berkorban. Mengalah demi mencapai hal yang baik bagi kedua pasangan itu adalah cinta.
Bahkan kesediaan untuk mengalah ini tidak boleh dianggap sebagai pengorbanan. Sebab, pengorbanan itu memerihkan hati, kesediaan mengalah seyogyanya dianggap sebagai harga yang harus dibayar demi meraih nilai yang luhur yakni kebahagiaan.
Itulah beberapa tip yang dibagikan Quraish Shihab dalam bukunya ‘Jawabannya adalah Cinta’. (Jhn/nap)






