Ngawi (beritajatim.com) – Total sudah 4 petani Ngawi yang tewas imbas tersengat jebakan tikus beraliran listrik selama Januari 2024 ini. Terakhir adalah Subianto, warga Desa Bintoyo, Kecamatan Padas yang meregang nyawa di sawahnya pada Selasa (30/01/2024) malam. P
Petani itu ditemukan meninggal dengan kaki terjerat kawat beraliran listrik. Ditemukan luka bakar luka bakar di badan.
Sementara, sebelumnya dua petani asal Kecamatan Karangjati Ngawi dan salah seorang petani asal Kecamatan Paron. Menyikapi hal tersebut, jajaran Polres Ngawi mulai menggalakkan gropyokan untuk membantu petani.
Seperti yang dilakukan Polsek Paron yang melakukan gropyok tikus bersama petani. Gropyokan dinilai lebih aman karena tidak menggunakan listrik. Gropyokan dilaksanakan secara gotong royong dan tidak membahayakan.
Jebakan tikus yang dipasang memakai aliran listrik di sawah dapat membahayakan orang. Sehingga gropyokan atau menangkap bersama-sama pada sarangnya adalah cara efektif untuk menangkap tikus.
“Anggota Polsek memasang banner imbauan dan mengingatkan terus agar tidak ada petani yang pasang jebakan tikus pakai aliran listrik, sebab itu berbahaya,” kata Kasi Humas Polres Ngawi Iptu Dian Ambarwati, Rabu (31/1/2024)
Sosialisasi kepada petani tentang pemberantasan hama tikus di sawah secara aman akan terus dilakukan, dan pemasangan banner imbauan tentang bahaya jebakan tikus dengan aliran listrik juga dipasang di berbagai tempat.
“Polsek akan selalu mengontrol dengan cara patroli di area sawah apakah ada jaringan listrik untuk jebakan tikus, bila ada, akan ingatkan untuk dilepas agar tidak ada korban jiwa,” tegas Dian.
Sementara itu, Sumarno (52) salah seorang petani di Desa Tempuran mengatakan, dirinya siap mengikuti imbauan dari petugas untuk tidak memasang jebakan tikus yang diberi aliran listrik.
“Alhamdulillah, para petani di sini, sudah tidak ada lagi yang menggunakan aliran listrik sebagai jebakan tikus.” ucap Sumarno. [fiq/beq]






