Ngawi (beritajatim.com) — Sebanyak 30 santri Pondok Pesantren Al-Hijrah di Kabupaten Ngawi masih menjalani perawatan medis setelah mengalami dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Para pasien dirawat di tiga puskesmas dan satu rumah sakit rujukan, dengan kondisi yang dilaporkan terus membaik.
Data terbaru menyebutkan, Puskesmas Padas menjadi lokasi perawatan terbanyak. Dari sebelumnya 36 pasien, kini 19 santri masih dirawat. Sebanyak 17 santri telah diperbolehkan pulang pada Sabtu (14/2/2026) malam. Pihak puskesmas merencanakan 16 santri lainnya dipulangkan rawat jalan pada Minggu (15/2/2026) siang, sementara tiga pasien masih menjalani observasi karena keluhan mual dan pusing.
Kepala Puskesmas Padas, dr. Zain Ratna Priyanto, menjelaskan bahwa tren pemulihan pasien berjalan positif. “Sebelumnya ada 36 pasien, sekarang tinggal 19. Rencananya 16 akan dipulangkan siang ini, tiga lainnya masih perawatan,” ujarnya.
Di Puskesmas Kasreman, jumlah pasien turun dari 12 menjadi 4 orang. Puskesmas Ngawi Purba kini merawat 3 pasien dari sebelumnya 10 orang. Sementara itu, di RSUD dr. Soeroto, tersisa 4 pasien dari sebelumnya 9 orang yang dirujuk.
Salah satu orang tua santri, Tutik, menyampaikan rasa lega karena kondisi anaknya membaik. “Akan saya bawa pulang karena sudah sembuh. Soal kepastian penyebabnya makan apa belum tahu, yang penting anak saya sudah sembuh,” tuturnya.
Pantauan di lingkungan Ponpes Al-Hijrah hingga Minggu siang menunjukkan ramainya orang tua santri yang datang menjemput. Namun, wartawan belum diperkenankan masuk ke area pesantren. Di sisi lain, SPPG Karangtengah Prandon—yang sebelumnya menyalurkan MBG ke pesantren—terlihat sepi aktivitas.
Sebelumnya, 67 santri dilaporkan mengalami gejala keracunan diduga usai menyantap MBG pada Sabtu siang, 14 Februari 2026. Hingga kini, penelusuran penyebab pasti masih berlangsung, sementara fokus layanan kesehatan diarahkan pada pemulihan seluruh pasien. [fiq/suf]






