Magetan (beritajatim.com) – Selama empat tahun terakhir, ada tiga laporan hilangnya pendaki Gunung Lawu via jalur pendakian Cemoro Sewu.
Salah satu diantaranya, hingga kini tidak ditemukan keberadaannya. Hendri Parno Siswanto, Ketua Tim Pencarian, sekaligus warga setempat membenarkan jika pihaknya sempat menjadi pasukan bawah kendali operasi (BKO) Basarnas Solo Jawa Tengah untuk mencari pendaki yang hilang.
Personel BPBD, TNI Polri asal Magetan Jawa Timur turut membantu proses pencarian dengan menyisir sekitar jalur pendakian Cemoro Sewu, Desa Ngancar, Plaosan, Magetan.
Pertama yakni Alvi Kurniawan, pemuda 20 tahun asal Desa Mejing, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang naik lewat Candi Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah.
Dia mendaki bersama 6 orang rekannya pada 31 Desember 2018 lalu. Mereka kemudian mendirikan tenda di Pos 5 untuk menuju puncak Lawu keesokan harinya. Mereka berencana untuk tahun baruan di sana.
Keesokan harinya tanggal 1 Januari, 2 orang teman Alvi yakni Supriyanto dan Anam melanjutkan ke puncak Gunung Lawu terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan, ia ketemu dengan seorang pendaki perempuan asal Wonosobo. Pendaki tersebut mengajak Alvi balapan lari menuju puncak Lawu. Namun dia berhenti karena kelelahan sementara Alvi terus berlari ke puncak.
“Katanya dulu itu balapan dengan seorang perempuan asal Wonosobo untuk berlari ke puncak. Teman-teman Alvi yang berada di belakang kemudian bertemu pendaki tersebut. Dia bilang bahwa Alvi sudah mencapai puncak. Namun menurut teman lainnya yang sudah berada di puncak, Alvi belum terlihat sama sekali. Rombongan ini terpisah dengan Alvi di Pasar Dieng, pukul 12.15 WIB. Namun meski sudah ditunggu sampai pukul 18.00 WIB, Alvi tetap tak kunjung muncul juga. Alvi hilang pada tanggal 1 Januari 2018,” kata Hendri pada beritajatim.com, Rabu (26/10/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”pendaki-hilang-di-gunung-lawu”]
Pada tanggal 24 Januari atau setelah pencarian dilakukan dalam waktu 23 hari, nasib Alvi tak kunjung diketahui. Orang tua Alvi ikhlas dan pencarian pun harus dihentikan.
Sebenarnya tanggal 8 Januari pencarian sudah dihentikan, namun ada beberapa petunjuk yang bisa digunakan untuk mencari Alvi. Ratusan relawan dan anjing pelacak dikerahkan untuk mencari korban. Namun sayang, tubuh Alvi tidak ditemukan sehingga belum diketahui nasibnya.
“Hampir sebulan memang terus dilakukan pencarian. Namun, tetap hasilnya nihil. Keluarga survivor saat itu telah mengikhlaskan kepergiannya,” kata Hendri.
Kemudian yang kedua adalah Andi Sulistyawan (18) pelajar asal RT 001 RW 014, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dia terdaftar naik lewat Jalur Pendakian Candi Cetho pada Sabtu, 4 Juli 2020 bersama empat orang kawannya. Pada, Minggu, 5 Juli 2020 sekitar pukul 03.00 WIB dia diminta mengantar salah satu rekan wanitanya untuk buang air kecil. Setelah itu, Andi tak diketahui keberadaanya.
Rekannya sempat mencari dan karena sudah bingung tak menemukan keberadaan Andi, rekannya melaporkan ke petugas di Cemoro Sewu, Magetan. Terakhir kali Sulistyawan memakai jumper merah marun, dan memakai jeans hitam. Secara fisik , dia memiliki tinggi badan 170 cm dan berkulit sawo matang. Kebetulan dia tidak memakai alas kaki sama sekali.
“Hingga akhirnya ditemukan di Geger Boyo atau wilayah sekitar jalur pendakian Cemoro Kandang. Sudah jatuh di jurang dalam kondisi telanjang dada. Sempat beredar video viral ketika dia mondar-mandir di sekitar lokasi dan sudah bertelanjang dada padahal saat itu kondisi suhu di atas sangat dingin. Diduga sudah mengalami paradoxical undressing,” terang Hendri.
Andi pun dievakuasi pada Minggu, 5 Juli 2022 dan langsung dibawa ke rumah duka usai benar teridentifikasi jenazah tersebut adalah dirinya oleh pihak keluarga.
Diketahui, paradoxical undressing dapat terjadi saat seseorang mengalami hipotermia yang parah.
Saat hipotermia semakin parah, pernapasan dan detak jantung melambat hingga tingkat yang membahayakan.Mereka yang mengalami ini justru melepas sebagian atau seluruh bajunya meskipun sebenarnya mereka kedinginan.
Kemudian, yang terakhir adalah Ali Rahmatullah (48) pendaki ritual asal Dusun Rejowinangun, Desa Minggiran, Papar, Kediri yang naik pada 15 Oktober 2022 lalu lewat jalur pendakian Cemoro Sewu. Namun, karena tak kunjung turun dia dilaporkan hilang sejak 18 Oktober 2022. Tim pencari dari TRC Paguyuban Giri Lawu dan Perhutani sempat melakukan pencarian namun tak ada hasil hingga Selasa (25/10/2022).
Kemudian, mereka meminta Basarnas untuk open search and rescue (SAR) pada Rabu (26/10/2022). Dua search and rescue unit (SRU) sudah naik sejak Rabu pagi. Petugas di Pos Cemoro Sewu masih menanti perkembangan pencarian. Diketahui cuaca di wilayah atas terpantau hujan.
“Kami sudah berangkatkan tim. Ini masih menanti perkembangan. Kami meminta doa dari masyarakat agar pendaki iji bisa segera ditemukan,” pungkas Hendri. (fiq/ted)






