Ponorogo (beritajatim.com) – Polisi masih melakukan penyelidikan kasus petasan yang meledak yang menewaskan kakak adik di Dusun Ngasinan Desa/Kecamatan Sukorejo pada akhir bulan April lalu. Satreskrim Polres Ponorogo melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang berkaitan dengan pembuatan balon udara dan petasan yang meledak itu.
“Ada 17 saksi yang kita introgasi yang berkaitan dengan petasan yang meledak dan menewaskan 2 orang tersebut,” kata Kanit Pidum Reskrim Polres Ponorogo, IPDA Guling Sunaka, Jumat (21/5/2021).
Selain memeriksa beberapa saksi, penyidik juga mengambil barang bukti di TKP, berkoordinasi dengan inafis dan pusladfor Polda Jatim yang melakukan otopsi kepada 2 korban yang tewas. Pihaknya, kata Guling masih menunggu hasil otopsi dari tim dokter forensik. Jika sudah mendapatkan hasilnya, baru dilakukan gelar perkara. “Kita lihat cukup alat bukti atau tidak untuk ditingkatkan ke penyidikan. Saat ini masih nunggu hasil otopsi dari tim forensik,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”polres-ponorogo”]
Kembali ke 17 saksi yang diperiksa itu, Guling menyebut jika mereka ada yang ikut iuran dan menyumbangkan tenaga untuk membuat balon udara. Sedangkan untuk petasan atau bahan ledak itu disuplai dari dua kakak adik yang tewas tersebut. “17 saksi yang diperiksa tidak ada kaitannya dengan pembuatan petasannya, hanya sebagian yang membuat balon udaranya,” katanya.
Untuk diketahui, ledakan keras yang terjadi di Dusun Ngasinan, Desa/Kecamatan Sukorejo Ponorogo pada Selasa (27/4) malam diduga dari petasan. Ledakan keras itu menyebabkan 2 orang meninggal dunia. Yakni SN (23) dan SM (21) yang merupakan kakak beradik. Kejadian pada pukul 22.00 WIB itu, terjadi di lantai 2 rumah korban. “Ledakan itu terjadi di lantai 2, rumah korban,” kata Kapolsek Sukorejo AKP. Beny Hartono.
Akibat ledakan tersebut, kedua korban terlempar dari lantai 2. korban SN terlempar sejauh 5 meter ke belakang rumah. Bahkan sebagian tubuh korban hingga belum diketemukan hingga kini. Sementara adiknya, SM juga terlempar ke genting rumah tetangganya. “Kalau korban SN tewas seketika di TKP, bahkan tubuh bagian kakinya belum diketemukan. Sementara adiknya, SM meninggal saat tiba di rumah sakit,” katanya.(end/kun)






