Blitar (beritajatim.com) – Bagi banyak orang, menjadi manajer di perusahaan finance selama 15 tahun adalah puncak dari tangga karier. Gelimang gaji puluhan juta rupiah dan kestabilan finansial tentu menjadi jaminan dan idaman bagi semua orang.
Namun bagi Trian Anggono gelar dan stabilitas finansial yang dirasakan selama 15 tahun itu terasa hampa. Pria asal Gledug Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar tak merasa ada ketenangan jiwa, hingga akhirnya ia memutuskan untuk hijrah dan berhenti total dari dunia korporat itu.
“Sebelum saya usaha barbershop ini saya sebagai manager di finance selama 15 tahun sebelum saya memutuskan untuk hijrah dan menjalani kehidupan saat ini,” ungkap Trian pada Jumat (21/11/2025).
Selama satu setengah dekade, Trian hidup dalam ritme korporat yang menuntut. Pagi hingga larut malam dihabiskan untuk laporan keuangan, target, dan rapat. Bapak 3 anak itu pun merasa kehilangan waktu berharganya untuk keluarga tercinta.
“Setelah hijrah itu saya langsung ajak ibu bapak serta istri saya pergi ke tanah suci, saya benar-benar ingin lepas dan hijrah,” ungkapnya.
Keputusan hijrah ini didorong oleh kesadaran spiritual dan filosofi hidup yang bergeser. Trian tidak lagi ingin mengejar keuntungan materi semata, melainkan kualitas hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang ia yakini. Baginya, kebahagiaan sejati bukanlah seberapa besar saldo di bank, melainkan seberapa berkualitas waktu yang ia berikan pada keluarganya.
“Saya ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak saya terutama yang kecil ini, makanya saya terus buka usaha ini,” imbuhnya.
Setelah melepas dasi dan kemeja formalnya, Trian kini memilih jalur wirausaha yang jauh dari dunia finance. Dirinya kini merintis sebuah usaha kecil yakni barbershop. Usaha yang didirikan dari keinginan hijrahnya ini diberi nama Papio Barbershop.
Trian pun menentang arus. Ia harus berhadapan dengan ketidakpastian pendapatan bulanan yang fluktuatif, jauh berbeda dari kenyamanan gaji saat dirinya masih menjabat sebagai manajer.
“Alhamdulilah meski kalau dilihat secara nominal lebih kecil dari dulu, namun saya merasa cukup dan justru lebih berkah,” ungkap.
Filosofi berkah, keberlimpahan yang mengandung kebaikan kini menjadi kompas baru bagi Trian. Ia menemukan bahwa ketenangan hati yang didapatnya kini jauh lebih berharga daripada angka di slip gaji.
“Ya namanya usaha di desa jadi ya masih 5-10 orang per hari, tapi saya bersyukur sekali,” ucapnya penuh kelegaan.
Usaha barbershop ini pun kini benar benar ditekuni oleh Trian. Pria yang sebelumnya tak punya skil untuk memotong rambut itu perlahan terus belajar dan ikut pelatihan, hingga akhirnya dirinya sukses merintis usaha yang dirasanya lebih berkah.
“Kalau harga potong di sini masih Rp15 ribu itu sudah dapat keramas, jauh lebih murah kalau dibandingkan dengan kota, meski begitu kualitasnya insha allah tidak kalah,” tandasnya.
Kisah Trian Anggono menjadi tamparan halus bagi siapapun yang terlalu fokus pada kesuksesan finansial, mengingatkan bahwa kekayaan sejati seringkali diukur dari hal-hal yang tak dapat dibeli dengan uang, yaitu waktu dan ketenangan. [owi/beq]






