Jakarta (beritajatim.com) – 15 media membuat pernyataan mengundurkan diri dari keanggotaan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pada Jumat (28/7/2023). Dari 15 media tersebut, delapan di antaranya merupakan bagian dari 26 media pendiri AMSI.
Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut mengatakan pengunduran diri tersebut secara resmi diterima secara tertulis oleh Pengurus Pusat. Menurut dia, AMSI berusaha memahami alasan ke-15 media tersebut.
“Serta sudah pula mengirimkan balasan, menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama membesarkan asosiasi ini,” ujar Wens, Sabtu (29/7/2023).
Wens mengungkapkan dengan total anggota sebanyak 470 media yang tersebar di 27 provinsi, tentu AMSI berjalan dengan penuh dinamika. Mengingat ada banyak ragam, segmentasi, serta model bisnis dari segenap anggota AMSI.
“Ini hal wajar bagi organisasi manapun, dan dari situlah seringkali sebuah organisasi tumbuh dan hidup serta berupaya tetap berguna bagi anggota dan masyarakat umum,” kata dia.
BACA JUGA:
AMSI, AJI, IJTI dan IDA Minta Presiden Jokowi Cari Jalan Terbaik untuk Publishers Rights
Saat ini, AMSI tetap pada komitmen untuk meneruskan misi dan program organisasi yang disusun bersama oleh segenap anggota. Hal itu, kata Wens mendapat dukungan dari sejumlah media yang menjaga komitmen untuk terus membersamai AMSI.
“AMSI saat ini mendapat dukungan meneruskan misi dan program organisasi dari sejumlah anggota grup media seperti MNC, Tribun, Tempo, Kapanlagi Youniverse (KLY), Viva, Katadata, Suara, Mahaka, Radar-JawaPos, semua aktif di kepengurusan dan menjalankan visi misi yang disepakati bersama dalam bingkai yang tetap hangat penuh kekeluargaan,” terang Wens.
Terkait dengan alasan pengunduran diri ke-15 media dari AMSI, Wens menegaskan belum ada kejelasan terkait dinamika mana yang dimaksud. Merujuk pengumuman yang tersebar, tidak ada kejelasan terkait visi mana yang dianggap sudah tidak sejalan ataupun program apa yang dinilai melanggar kesepakatan.
“Tetapi kerjasama dan perkawanan selama membangun AMSI rasanya terlampau penting untuk sekedar diusik oleh pertanyaan tentang sebuah alasan,” terang dia.
Wens pun menyinggung tujuan berdirinya AMSI pada 18 April 2017 yaitu mendorong ekosistem media Indonesia menjadi sehat. Selain itu, menghargai jurnalisme berkualitas, patuh pada kode etik, serta tunduk pada kepentingan publik.
“Hanya dengan itu, fungsi kita sebagai pers bisa dirasakan manfaatnya dan relevan untuk masyarakat,” kata dia.
Berangkat dari tujuan itu, selama enam tahun terakhir AMSI fokus pada program-program perbaikan internal. Mendorong setiap media anggota untuk membenahi konten, memperbaiki sisi teknologi maupun model bisnis, serta memotivasi untuk memelihara relevansi dengan kebutuhan publik, dan terus beradaptasi dengan pesatnya perkembangan dunia digital.
“Demi semua tujuan itu, AMSI bekerjasama dengan lembaga pemerintahan, kampus, perusahaan swasta di dalam negeri maupun luar negeri, serta banyak lembaga internasional. AMSI juga aktif sebagai konsituen Dewan Pers merumuskan regulasi dan kebijakan untuk merawat dan menjaga kebebasan pers serta meningkatkan kualitas jurnalis dan pers di Indonesia,” terang Wens.
BACA JUGA:
Publisher Right Dorong Kesetaraan Media dan Platform Digital
Tak hanya itu, AMSI menggelar begitu banyak pelatihan, program pendampingan media, coaching clinic dan beasiswa (fellowship) bagi ratusan media anggotanya. Secara berkala juga memberikan award untuk media-media yang dinilai berhasil menjadi contoh perbaikan dan pertumbuhan digital di Indonesia.
“Semua program kerja itu penting dilakukan agar media tetap dipercaya sebagai rujukan informasi bagi masyarakat umum, di tengah membanjirnya konten di jagat digital dewasa ini,” kata Wens.
AMSI pun sadar, menjaga ekosistem media demi kemuliaan jurnalisme itu, tidak bisa dilakukan sendirian. Di lansekap digital, ada begitu banyak pihak yang menentukan perjalanan sebuah berita dari ruang redaksi sampai ke layar ponsel publik.
Sehingga, AMSI menyambungkan media anggota dengan channel distribusi konten dan secara aktif mendorong platform agar mengutamakan konten yang berkualitas pada kanal distribusi mereka. Termasuk sejak awal ikut serta dalam menyusun draft Perpres publisher rights dan aktif di tim media sustainability yang dibentuk Dewan Pers.
“Pada akhirnya, semua media berhak menentukan asosiasi mana yang menjadi wadahnya beraktivitas dan menyalurkan aspirasi, atau juga sama sekali tidak masuk asosiasi manapun. Sekali lagi terima kasih untuk 15 media yang mundur per 28 Juli ini, atas sumbangsih turut mewarnai perjalanan membesarkan AMSI,” tutur Wens. [beq]






