Munchen (beritajatim.com) – Di atas kertas, Inter Milan lebih diunggulkan daripada Paris Saint-Germain pada final Liga Champions dini hari nanti. Nerazzurri total telah tampil di 6 final sebelumnya dan 3 kali juara. PSG? Mereka hanya pernah sekali ke final musim 2019–2020 itu pun dikalahkan Bayern Munchen.
Tetapi untuk final kali ini, PSG bisa lebih pede berkat faktor nonteknis. Venue laga yang akan dimainkan di Munchen adalah kesukaan tim yang belum pernah juara seperti PSG.
Sebelumnya, ada 4 final Liga Champions yang dilangsungkan di Munchen. Uniknya, di 4 final tersebut selalu berujung dengan lahirnya juara baru.
Edisi 1979 ada Nottingham Forest yang mengalahkan Malmo FF 1-0. Di edisi 1993, ada Olympique Marseille yang menjungkalkan tim unggulan AC Milan juga dengan 1-0. 4 tahun berselang, giliran Borussia Dortmund menang 3-1 dri Juventus. Yang terakhir ada di edisi 2012 saat Chelsea mengalahkan Bayern.
Kecuali final 2012 yang dimainkan di Fussball Arena, tiga final sebelumnya dihelat di Olympiastadion. Sama-sama ada di Munchen. Olympiastadion adalah kandang lama Bayern sebelum pindah ke Fussball Arena atau Allianz Arena sejak musim 2005–2006.
“Perjalanan tim ini sangat berliku (menuju juara kali pertama, Red). Untuk perjalanan musim ini, kami tidak menunjukkan rasa takut dan akan melakukan hal yang sama di final (menghadapi Inter yang lebih berpengalaman, Red)” ujar entraineur PSG Luis Enrique dilansir ESPN.
Tetapi, Inter bukannya tanpa keuntungan dengan venue di Munchen. Sebab, kesuksesan Inter melaju ke final kali ini berkat menyingkirkan Bayern dengan agregat 4-3 pada perempat final.
Inter juga beruntung menghadapi Bayern pada final 2010. Kala itu, mereka juara berkat kemenangan 2-0.
“PSG tim hebat dan akan membuat kami menderita serta sebaliknya. Perjuangan kami menuju final jhga tidak mudah dan akan all out,” ujar allenatore Inter Simone Inzaghi. (dio)






