Bondowoso (beritajatim.com) – Sebanyak 112 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Bondowoso tercatat meninggal dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Angka kematian ODHA tertinggi terjadi pada 2023, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso.
Subkor Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Bondowoso, Goek Fitri Purwandani merinci, pada 2022 tercatat 23 kematian, meningkat drastis menjadi 63 pada 2023, dan hingga awal 2024 sudah ada 26 kematian.
“Penyebab terbesar kematian adalah Infeksi Opportunistic, terutama Tuberkulosis (TBC),” kata Goek, Rabu (5/3/2025).
Menurut Goek, tingginya angka kematian ODHA ini salah satunya disebabkan para penderita HIV/AIDS tidak mengonsumsi antiretroviral (ARV) seperti yang sudah diresepkan. Padahal, terapi obat ini harus dilakukan seumur hidup untuk menekan jumlah virus dalam tubuh.
“Setelah enam bulan pengobatan, pasien akan diperiksa menggunakan metode Viral Load untuk mengukur jumlah virus dalam tubuh,” kata dia.
Jika pasien rutin mengonsumsi ARV, jumlah virus akan terus menurun hingga tidak terdeteksi. “Namun, jika mereka berhenti mengonsumsi, virus akan aktif kembali dan berpotensi menular ke orang lain,” tutur Goek.
Sayangnya, masih banyak ODHA yang merasa sudah sembuh sehingga berhenti minum obat. Lalu, mereka kembali melakukan perilaku berisiko dan menularkan virus ke orang lain.
Ketika ODHA tidak minum ARV, daya tahan tubuh melemah dan mereka rentan terkena infeksi lain, terutama TBC.
“Karena itu, saat ini ada program wajib bagi ODHA untuk mengonsumsi Terapi Pencegahan TBC (TPT) selama tiga tahun. TBC dan HIV itu seperti suami istri, sangat erat kaitannya,” ujarnya.
Sementara, Plt Kepala Dinkes Bondowoso, dr. Mohammad Jasin, mengatakan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS hingga 2024 mencapai 1.293. Jumlah ini, kata dia, merupakan akumulasi dalam kurun Waktu 5 tahun terakhir.
“Sejak tahun 2018, jumlah kasus mencapai 1.200 dan setiap tahunnya selalu ada kasus baru. Ada yang meninggal, ada yang drop out (tidak mau berobat), dan ada yang pindah,” jelas dr. Jasin kepada beritajatim.com.
Salah satu komunitas yang aktif dalam isu ini adalah perkumpulan kelompok lelaki seks lelaki (LSL) di Bondowoso.
Berdasarkan data yang mereka himpun, dari total 729 anggota komunitas, sebanyak 44 orang telah terkonfirmasi sebagai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Jasin menegaskan pentingnya memahami pola penularan agar intervensi dapat dilakukan dengan tepat.
“Kita harus memastikan penularan terjadi di mana agar intervensi yang kita lakukan tidak salah sasaran,” katanya.
Apabila terjadi di kalangan pelajar, maka sosialisasi harus digencarkan di sekolah. “Jika terjadi di komunitas tertentu, maka kita harus mengajak mereka berdialog agar penyebaran ini tidak semakin meluas,” terangnya.
Untuk menangani ODHA, Bondowoso memiliki 12 fasilitas layanan kesehatan yang memberikan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP).
Fasilitas tersebut terdiri dari dua rumah sakit, yakni RSUD dr. Koesnadi dan RS Bhayangkara, serta 10 puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan, seperti Maesan, Tenggarang, Prajekan, Kota Kulon, Tlogosari, Sumberwringin, Jambesari Darusollah, Curahdami, Tamanan, dan Tapen. [awi/beq]






