Magetan (beritajatim.com) – Meski berperan besar dalam memenuhi kebutuhan sayur-mayur harian masyarakat, para petani sayur di Magetan merasa diperlakukan tidak adil dalam kebijakan pupuk bersubsidi pemerintah.
Sudah bertahun-tahun, petani di kawasan penghasil sayur seperti Poncol, Plaosan, dan Panekan tidak tersentuh bantuan pupuk bersubsidi. Lantaran, kebijakan subsidi pupuk dari pemerintah pusat hanya difokuskan pada 10 komoditas utama seperti padi, jagung, kedelai, ubi kayu, tebu, kakao, kopi, cabai, serta bawang merah dan putih. Tanaman sayur seperti kol, sawi, dan wortel yang banyak dibudidayakan di lereng Lawu tidak termasuk dalam daftar tersebut.
Kondisi ini memaksa petani untuk membeli pupuk nonsubsidi dengan harga tinggi. Tak sedikit yang bahkan harus mencari pupuk hingga ke luar daerah. “Ada 11 kelompok tani di Poncol yang sama sekali tak dapat pupuk bersubsidi tahun lalu. Kami hanya jujur mengisi data e-RDKK sesuai jenis tanaman kami,” ungkap Wadiran, Ketua Kelompok Tani di Poncol.
Ironisnya, meski alokasi pupuk subsidi untuk Kabupaten Magetan meningkat pada 2025—dengan rincian Urea 21.634 ton, NPK 19.269 ton, pupuk organik 7.339 ton, dan NPK Formula 35 ton—kelompok petani sayur tetap tidak mendapat bagian.
“Sayuran dianggap tidak berkontribusi pada inflasi, sehingga tidak masuk komoditas strategis penerima subsidi,” jelas Edy Utomo, Staf Bidang Sarpras Pupuk Dinas Pertanian Magetan.
Angka distribusi pun menunjukkan ketimpangan yang cukup besar. Kebutuhan pupuk yang terpenuhi untuk Magetan masih berada di kisaran 85 persen untuk Urea, 58 persen untuk NPK, dan hanya 32 persen untuk pupuk organik. Namun, semua angka itu hanya berlaku untuk tanaman yang diakui sebagai komoditas strategis oleh pemerintah pusat.
Kondisi ini memunculkan desakan kuat dari para petani sayur untuk meninjau ulang kebijakan. Mereka meminta adanya penerapan keadilan sosial yang tidak membedakan nasib petani berdasarkan jenis tanaman.
“Kalau prinsip keadilan benar-benar diterapkan, tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan jenis tanaman. Kami juga petani, kami juga rakyat,” tegas Wadiran.
Kini, petani sayur Magetan hanya berharap agar negara hadir lebih inklusif. Sebuah harapan sederhana: agar kebijakan subsidi pupuk bisa menyentuh seluruh petani, tanpa terkecuali. [fiq/kun]






