Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 1.200 personel keamanan bakal dikerahkan dalam pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak tahun 2022 di Kabupaten Ponorogo.
Ribuan personel keamanan itu merupakan tim gabungan dari polisi, TNI, Satpol PP, dan Linmas. Selain itu, Polres Ponorogo, juga mendatangkan personel bawah kendali operasi (BKO) dari Brimob. “Ada sekitar 1.200 personel untuk pengamanan Pilkades serentak Kabupaten Ponorogo tahun ini,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo, Senin (14/11/2022).
Personel keamanan itu nantinya bakal disebar ke 23 desa yang melaksanakan Pilkades serentak, pada tanggal 22 November 2022. Potensi kerawanan pun telah dipetakan dan dilakukan usaha antisipasi yang melibatkan pihak-pihat terkait. Selain dari TNI dan Polri, juga ada dari kecamatan, pemerintah desa (pemdes) dan para tokoh masyarakat yang ada di desa. “Kita libatkan pihak-pihak terkait untuk ikut menjaga keamanan selama proses Pilkades serentak berlangsung,” katanya.
Personel keamanan yang dikerahkan ini akan disiagakan di 5 titik yang sudah dipetakan di setiap desa. Kelima titik itu merupakan tempat yang tepat untuk melakukan percepatan pergeseran personel, terjadi situasi yang mengancam keamanan maupun hal yang tidak diinginkan. Langkah-langkah ini, kata Catur sebagai upaya untuk menjaga Pilkades serentak berjalan aman dan kondusif. “Lima titik penempatan ini, untuk memudahkan pergeseran persone secara cepat, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Polres Ponorogo sebelumnya juga melakukan pemetaan dalam kontestasi Pilkades serentak di Kabupaten Ponorogo itu. Korps Bhayangkara itu memetakan tingkat kerawanan desa-desa yang ikut Pilkades. Dari 23 desa yang melaksanakan Pilkades, ada beberapa desa yang menjadi atensi terkait pengamanannya.
“Kita lakukan pemetaan dari desa-desa yang mengikuti Pilkades serentak ini. Jadi dari 23 desa yang ikut, ada 15 desa yang kita petakan aman,” kata mantan Kapolres Kota Batu tersebut.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pilkades-serentak”]
Namun, Catur menyebut bukan berarti 8 desa sisanya itu masuk rawan. Hanya saja, Ia menegaskan bahwa 8 desa itu pengamanannya bakal diperketat. Catur menjelaskan bahwa pemetaan kerawanan yang Polres Ponorogo lakukan berdasarkan kontentestan dari calon kepala desa (cakades) itu sendiri.
Sebanyak 15 desa yang dinyatakan aman itu, mayoritas cakadesnya diisi oleh pasangan suami istri. Sehingga tingkatnya bisa dikatakan lebih aman dari pada kontestannya benar-benar rivalitas murni. Sebab, 8 desa itu cakadesnya diisi oleh kandidat yang bersaing murni. “Delapan desa itu memang persaingan murni dan beberapa golongan, ini yang dikategorikan masuk rawan,” pungkasnya. [end/suf]






