Malang (beritajatim.com) – Perjalanan panjang untuk meraih cita-cita cukup berliku. Seperti yang dialami oleh Yoddie Babuta. Pria asal Surabaya ini sempat menjajal beberapa pekerjaan sebelum akhirnya menjadi game designer di Gameloft.
Perjalanan tersebut dimulai saat ia lulus kuliah. Saat itu, ia mencoba kerja di beberapa tempat. Kemudian, ia menjajal sebagai game artist di sebuah perusahaan game developer yang terletak di kawasan Surabaya Barat.
“Saya bekerja sebagai illustrator/artist disana. Karena saya bekerja sesuai passion, dalam kurun waktu delapan bulan saya dipercaya menjadi art director di perusahaan itu,” kata dia.
Kemudian, dalam kurun waktu tiga tahun, Yoddie memilih resign karena ia merasa sudah tidak ada tantangan dan jenjang karir yang menjanjikan. Setelah itu, ia memutuskan untuk buka usaha mandiri. Mulai dari sablon kaos, ternak cupang, hingga jual mie ayam.
“Saya lakukan semuanya. Namun masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya, apalagi anak-anak sudah mau masuk sekolah. Akhirnya saya mengikuti beberapa bootcamp dan melamar di puluhan perusahaan, dan akhirnya kembali ke industri game developer di Gameloft sebagai Game Designer,” imbuh dia.
Pada pekerjaan barunya, Yoddie kembali mendapat tantangan. Sehingga, ia merasa termotivasi untuk menjalani profesi barunya itu.
“Tantangannya adalah di dalam dunia game developer, tidak banyak posisi yang ada apalagi di switch/tukar dengan posisi lain jika memang tidak memiliki kemampuan. Karena kita bekerja berdasarkan kemampuan/expertise kita. Jadi jenjang karir sebagai game developer cukup linear kecuali sudah masuk tahap manajemen,” sambung pria lulusan ITS ini.
Meski demikian, ia merasa senang lantaran bekerja di bidang yang sesuai dengan hobi, bahkan main game pun dibilang kerja.
“Jadi, sekarang bermain game kadang ada bermain game untuk refreshing dan kadang ada main game untuk kerja. Tapi saya merasa happy,” ujar pria lulusan S2 Universitas Ciputra Surabaya ini.
[berita-terkait number=”4″ tag=”showup”]
Dari pengalamannya itu, Yoddie kerap mendapat project untuk membuat game dari berbagai klien besar. Salah satunya, game dari Disney, untuk porting game freemium ke premium yang masuk ke Apple Arcade.
Ke depan, Yoddie berharap bisa tetap fokus sebagai game designer atau sebagai game producer, belajar lebih banyak dan terus mengasah skill.
“Jika ada kesempatan ingin ke studio game yang lebih besar seperti Rockstar, EA atau Ubisoft,” kata dia.
Dia juga berharap, dengan semakin berkembangnya industri game di Indonesia, game developer bisa dilirik oleh dunia juga.
“Selain itu saya berharap pemerintah juga bisa memfasilitasi lebih dari yang sudah ada sekarang, karena memang biaya produksi game lumayan tinggi,” kata dia.
Pada kesempatan tersebut, ia juga berpesan kepada anak muda agar tak berhenti untuk belajar.
“Jangan pernah berhenti belajar sampai kapanpun, karena kesempatan terkadang tidak bisa menunggu, Siapkan dirimu sebelum kesempatan itu datang,” tandas pris kelahiran 1990 ini. (ted)
==============
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






