Sidoarjo (beritajatim.com) – Dua kali latihan bersama melawan tim Liga 4 asal Nganjuk dan EPA U-19 Akademi Deltras belum sepenuhnya memuaskan pelatih Deltras FC, Widodo Cahyono Putro. Fokus utama evaluasi masih tertuju pada persoalan transisi permainan yang dinilai belum optimal.
Evaluasi ini menjadi krusial setelah tim berjuluk The Lobster menelan tiga kekalahan beruntun di ajang Pegadaian Championship Liga 2. Dalam situasi tersebut, aspek transisi—baik dari menyerang ke bertahan maupun sebaliknya—menjadi sorotan utama tim pelatih.
“Beberapa kekalahan terakhir ini sorotan utama bagaimana transisi dari menyerang ke bertahan, dan sebaliknya,” ungkap Widodo.
Menurut pelatih asal Cilacap itu, filosofi permainan menyerang yang diterapkan Deltras FC kerap membuat lini pertahanan kedodoran saat kehilangan bola. Oleh karena itu, jeda kompetisi dimanfaatkan untuk memperbaiki keseimbangan tim melalui rangkaian latihan bersama.
Widodo menegaskan bahwa perbaikan transisi tidak berarti mengubah peran pemain depan menjadi bertahan sepenuhnya. Namun, penyerang diharapkan mampu menjadi lini pertahanan pertama melalui tekanan tinggi kepada lawan.
“Pertahanan pertama adalah penyerang, tinggal mungkin cara bertahannya yang perlu ada modifikasi. Pemain depan bisa memberikan high pressing, sebagai sinyal pertahanan awal,” jelasnya.
Ia menilai kombinasi permainan menyerang dengan high pressing dapat menciptakan keseimbangan tim. Selain itu, variasi serangan dari lini belakang juga menjadi opsi untuk memperkaya pola permainan Deltras FC.
Setelah jeda Lebaran selama lima hari, Deltras FC dijadwalkan kembali menggelar latihan bersama sebagai bagian dari persiapan lanjutan. Tim yang diperkuat Wisal El Burji dan kolega itu selanjutnya akan menghadapi Persipura Jayapura pada Sabtu (28/3/2026) di Stadion Lukas Enembe, Jayapura. [way/beq]






