Surabaya (beritajatim.com) – Bahagia, haru dan full senyum tak dapat disembunyikan oleh warga Tegalsari Sidoarjo. Bagaimana tidak setelah penantian sekian lama kisaran 30 tahun akhirnya mereka dapat menikmati air bersih.
Hal ini berkat kerja keras Dosen UK Petra Surabaya Dr Surya Hermawan yang berhasil membuat alat pemurni air payau bernama Alpamal atau alat pemurni air payau dengan material lokal. Inovasi ini untuk menjawab persoalan warga pesisir di kawasan Tegalsari, Jabon, Sidoarjo.
“Masyarakat mengaku, mereka sudah lebih dari 30 tahun bergumul atas kesulitan mendapatkan air bersih. Padahal di sana ada sumber air payau, namun mereka belum tahu cara memanfaatkannya,” ungkap Surya, Kamis (16/11/2023).
BACA JUGA:Koramil Lumbang: Warga Inisiatif Evakuasi Korban Pesawat Jatuh
Setelah melewati masa-masa trial and error selama kurang lebih enam tahun, akhirnya pada momen Hari Pahlawan (10/11) lalu, Alpamal secara resmi bisa dimanfaatkan oleh para warga setempat.
Dosen Faculty of Civil Engineering and Planning itu merinci, air yang dihasilkan oleh Alpamal terbukti tidak mengandung bakteri E. coli dan bisa dikonsumsi, karena telah teruji oleh PT Sucofindo. Selain itu, uji kelayakannya sudah memenuhi standar Kemenkes dan WHO sekaligus.
Ia mengatakan, Alpamal ini menggantikan alat yang tahun lalu sempat dipasang di salah satu rumah warga di Dusun Tegalsari, yang masih belum sempurna. Kemudahan akses air bersih memang menjadi dambaan bagi warga di sana.
Tercatat ada 178 KK yang setiap harinya harus membeli air bersih, untuk keperluan minum dan memasak. Jika di total, dalam satu tahun dusun ini bisa menghabiskan biaya sebesar Rp 512.640.000 hanya untuk membeli air.
Surya juga mengajak mahasiswa UK Petra dari kelas Ilmu Lingkungan yang ia ampu, sebagai bagian dari kegiatan Service Learning. Sebanyak 25 Petranesian mahasiswa ikut membantu proses perencanaan, pembuatan, hingga peluncuran Alpamal kepada warga setempat.
BACA JUGA:Bunyi Pesawat Jatuh di Pasuruan Terdengar Hingga 1 Kilometer
Peluncuran Alpamal ini merupakan lanjutan dari hibah Dikti dengan No. PKS: 792/E1.1/KS.03.00/2023, berjudul Program Pembinaan UMKM Nurul Ismiati yang sedang dilakukan oleh Surya bersama empat dosen PCU lainnya.
“Banyak warga Dusun Tegalsari memiliki usaha budidaya udang, rumput laut, dan kepiting. Hasil budidaya itu kemudian dipakai untuk membuat produk-produk UMKM seperti kerupuk, bolu, dan mie. Nah, air yang sudah dimurnikan ini bisa mereka pakai untuk membuat produk UMKM tersebut. Dengan kualitas air yang lebih bersih dan sehat, saya yakin itu juga bisa meningkatkan kualitas produknya,” beber Surya.

Sementara Mashudi, RW dari Dusun Tegalsari mengungkapkan rasa syukurnya karena bisa mendapatkan air layak konsumsi, tanpa harus membelinya lagi. “Kami sangat senang dan berterima kasih. Sebab upaya mendapat air bersih sudah kami lakukan sejak lama, misalnya dengan pengeboran. Tapi hasil airnya tetap terasa pahit,” ujarnya.
“Enak! Rasa airnya segar banget,” celetuk Akbar, bocah 10 tahun, anak dari warta setempat itu. Akbar menjadi salah satu yang berkesempatan untuk merasakan air hasil pemurnian ini untuk pertama kalinya.
BACA JUGA:Dua Korban Pesawat Jatuh di Pasuruan Berhasil Dievakuasi
Fenomena krisis air bersih memang masih sangat sering ditemui, terutama di wilayah pesisir pantai, termasuk di Dusun Tegalsari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon Sidoarjo. Selama ini, masyarakat di sana harus hidup berdampingan dengan kondisi air payau yang sangat tinggi kadar garamnya, sampai tak layak konsumsi.
Namun, dengan hadirnya inovasi dosen UK Petra ini, akhirnya setelah 30 tahun kesulitan mendapatkan air bersih, kini sebanyak 178 KK di Dusun Tegalsari bisa menikmati air bersih untuk keperluan sehari-hari. (Ipl/Aje)






