Bojonegoro (beritajatim.com) – Warga yang tinggal di sekitar hutan wilayah Kabupaten Bojonegoro panen enthung jati. Fenomena munculnya enthung jati itu terjadi hanya saat peralihan musim dari kemarau ke musim hujan.
Munculnya enthung jati menjadi berkah bagi warga yang tinggal di sekitar hutan. Sehingga tidak sedikit warga yang berburu untuk mendapatkannya. Enthung jati itu kemudian ada yang dijual atau dimasak sendiri untuk lauk.
Salah satu warga yang bertempat tinggal di sekitaran hutan jati Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro Sutrisno mengatakan, enthung jati sudah sejak dulu hingga sekarang masih menjadi konsumsi warga.
“Rasanya gurih mas, dan ini terjadi satu tahun sekali, jadi kalau masuk rendeng (musim penghujan) seperti sekarang banyak warga yang mencari enthung jati,” ujarnya, Senin (25/11/2024).
Namun ia mengingatkan, tak semua orang bisa mengkonsumsi enthung jati yang memiliki nilai protein cukup tinggi ini. “Jika gak tawar (Alergi) dapat menyebabkan gatal-gatal disekujur tubuh,” tambahnya.
Selain dikonsumsi untuk lauk sehari-hari, enthung jati ini juga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Di tahun ini Sutrisno mengaku harga enthung di pasaran meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun lalu.
“Kalau di tahun ini harganya Rp100 ribu perkilogramnya, lumayan lah jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya Rp70 Ribu perkilogramnya,” tambahnya.
Fenomena unik mencari enthung ini dilakukan warga setahun sekali. Terutama pada awal datangnya musim penghujan. Namun jika hujan turun secara terus menerus maka enthung kembali menghilang karena daun jati kembali menghijau dan enthung sudah berfoto sintesis menjadi kupu-kupu. [lus/kun]






