Jember (beritajatim.com) – Penarikan 1.307 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif, 1.070 orang di antaranya mahasiswa Universitas Jember, dari 102 desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, membuat masyarakat setempat kecewa.
Universitas Jember bersama tujuh perguruan tinggi lain sepakat untuk menarik seluruh mahasiswa, karena merasa tak ada jaminan keamanan gara-gara pencurian empat sepeda motor di Desa Alun-alun, Kecamatan Ranuyoso dan Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh.
Namun warga menginginkan mahasiswa bertahan dan mengakhiri KKN pada 20 Agustus 2025 sesuai jadwal. “Sebagian desa memang keberatan dan bahkan menahan agar mahasiswa tidak ditarik, karena eman-eman (merasa sayang, red), Bahkan ada yang mengatakan, ‘kalau mau terus di sini, nanti akan kami ganti motornya’,” kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Yuli Witono, Selasa (12/8/2025).
Hal itu menunjukkan ikatan kuat antara warga desa dengan mahasiswa KKN. “Tapi tentu tidak sekadar itu. “Kami melihatnya tidak sekedar parsial. Kami lihat terutama pada keselamatan jiwa. Kami sangat berharap ini menjadi catatan penting bagi semua pihak,” kata Yuli.
Setelah kejadian di Lumajang tersebut, Universitas Jember akan mengevaluasi kondisi dan kelayakan seluruh desa untuk ditempati kegiatan pengabdian masyarakat. “Nanti setiap desa akan ada portofolionya dari sisi keamanan, produktivitas, dan respons kepala desa,” kata Yuli.
Universitas Jember akan mempertimbangkan kembali kemungkinan Desa Alun-alun, Kecamatan Ranuyoso dan Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, menjadi lokasi pengabdian masyarakat.
Yuli berharap desa-desa lain di Lumajang tetap kondusif. “Syukur-syukur satu kabupaten sudah kondusif, itu jauh lebih baik, karena tidak hanya KKN yang bisa dijalankan. Program kita banyak, di antaranya kajian, penelitian dan pengabdian masyarakat oleh dosen yang bisa dilakukan ke depannya,” katanya. [wir]






