Jember (beritajatim.com) – Antrean panjang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Sabtu (26/7/2025) malam dan Minggu (27/7/2025) pagi. Pasokan bahan bakar minyak mengalami keterlambatan.
Antrean panjang terjadi di Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan protokol di Jember, sehingga menyebabkan kemacetan. “Saya antre sejak pukul 23.47, SPBU buka tengah malam, dan saya baru terlayani pukul 01.00 WIB,” kata Adi Faizin, warga Kelurahan Mangli, kecamatan Kaliwates, Minggu (27/7/2025).
Antrean di SPBU Ahmad Yani tertib. “Ada polisi yang berjaga dan mengatur,” kata Adi.
Urusan BBM juga sempat bikin Dadang, salah satu warga Kelurahan Tegalbesar, pusing. Informasi beredar di WhatsApp menyebutkan sejumlah SPBU sudah kehabisan BBM. Beberapa SPBU hanya menyisakan Pertamaz yang langsung diserbu antrean warga.
“Tiga sepeda motor di rumah menipis semua isi tangkinya. Ini mau mengantarkan anak ke sekolah besok Senin bagaimana,” keluh Dadang. Ia kemudian mengantre di salah satu SPBU sejak pukul 02.30 dan baru memperoleh BBM pada pukul 04.00 WIB.
Di media sosial beredar video kemacetan terjadi di jalur Baluran, Situbondo-Banyuwangi. Setelah jalur Banyuwangi-Jember di Gunung Gumitir ditutup karena ada perbaikan selama dua bulan, jalur Banyuwangi-Situbondo menjadi jalur utama transportasi darat, termasuk kendaraan pengangkut BBM dari Terminal BBM Tanjung Wangi. Terminal ini melayani pasokan BBM dan LPG di Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, dan sebagian Lumajang.
Adi menilai pemerintah kurang matang dalam mengantisipasi penutupan jalur Gumitir. “Penutupan jalur gumitir kan sudah direncanakan matang oleh pemerintah, katanya. Tapi dampaknya seperti ini kok gak dimitigasi dgn matang?” keluhnya.
Sales Brand Manager Pertamina Area Jember Hendra Saputra mengatakan, ini bukan persoalan ketiadaan stok, namun kemacetan arus lalu lintas di Banyuwangi.
“Mobil-mobil tangki pengisian BBM tidak bisa kembali ke Banyuwangi. Kemacetan ke arah Pelabuhan Ketapang sampai 40 kilometer, ditambah penutupan jalan di Gumitir, sehingga 24-25 Juli kita lumpuh di sana,” katanya.
Alhasil 40 SPBU reguler dan satu nelayan SPBU khusus nelayan di Jember, terdampak. Biasanya pasokan BBM untuk wilayah Jember mencapai 700 kiloliter. Dengan adanya persoalan ini, menurut Hendra, Pertamina melakukan alih suplai.
“Yang tadinya mengambil dari Banyuwangi, BBM kami ambil dari Surabaya dan Malang,” kata Hendra. Sejak 26 Juli 2025, Pertamina sudah mendorong percepatan pengiriman ke wilayah Jember.
Hendra berharap kemacetan di Banyuwangi segera teratasi. “Kalau masih macet terus, sangat mempengaruhi distribusi kami,” katanya. [wir]






