Blitar (beritajatim.com) – Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin meminta agar kasus pencabulan sesama jenis di sebuah pondok pesantren di Bumi Bung Karno tidak diviralkan. Mas Ibin, sapaan akrab Wali Kota Blitar, meminta kasus pencabulan yang dilakukan seorang santri terhadap santri lainnya itu agar tidak dibesar-besarkan.
Jika kasus pencabulan sesama jenis ini viral, kata Mas Ibin, justru akan membuat psikologis anak semakin tertekan. Atas dasar itulah Mas Ibin meminta agar kasus ini tidak diviralkan.
“Jadi saya kira tidak perlu dibesar-besarkan, harus mulai kita secara bersama-sama memahamkan kepada anak-anak yang namanya anak-anak kan belum dewasa jadi perlu kita didik dan kita tidak perlu membesarkan itu,” ungkap Mas Ibin, Kamis (20/3/2025).
Sebelumnya mencuat kasus pencabulan sesama jenis di sebuah pondok pesantren Kota Blitar. Diduga pelaku adalah santri laki-laki senior di pondok pesantren tersebut, sementara korban adalah santri junior
Kasus ini pun sudah dilaporkan pihak keluarga korban ke Polres Blitar Kota. Pihak keluarga korban tidak terima jika anaknya menjadi korban sodomi.
Namun di sisi lain Wali Kota Blitar meminta agar kasus itu tidak dibesar-besarkan untuk melindungi psikologis anak. Wali Kota Blitar meminta agar kasus itu dilokalisir dan dilakukan penyelesaian secara hukum.
“Ya, menurut saya seperti itu (tidak dibesar-besarkan) namun dilokalisir dan ditindak secara hukum dan diselesaikan,” imbuhnya.
Wali Kota Blitar pun meminta Kementerian Agama Kota Blitar untuk menyelesaikan kasus ini. Pasalnya kasus ini menyangkut masa depan anak-anak.
“Kalau kita sering memblow up peristiwa anak ini, anak itu sendiri yang jadi korban imbas blow up itu,” tegasnya.
Pihak Kementerian Agama (Kemenag) Kota Blitar pun membenarkan soal adanya dugaan pencabulan di sebuah pondok pesantren. Namun pihaknya belum bisa menjelaskan secara detail kronologi kasus tersebut.
Kemenag Kota Blitar pun kini telah bergerak untuk melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut. Komunikasi dan koordinasi pun kini tengah dilakukan Kemenag Kota Blitar dengan pihak pondok pesantren untuk menggali peristiwa tersebut.
“Kami masih dalam tahap penyelidikan dan koordinasi dengan pihak pesantren. Untuk detail korban maupun kronologi kejadian, kami belum bisa menyampaikan lebih jauh,” ungkap Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, Kemenag Kota Blitar, Muhammad Baidowi.
Meski demikian, Kemenag Kota Blitar tidak mau membenarkan apakah kasus itu sodomi atau bukan. Kemenag Kota Blitar pun meminta agar semua pihak tidak berasumsi terkait kasus tersebut.
“Kami harap masyarakat tidak berasumsi sendiri terkait kejadian ini, karena masih dalam penyelidikan. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan fakta-fakta yang ada,” tegasnya. [owi/beq]






