Surabaya (beritajatim.com) – Wali Kota Blitar Santoso menceritakan peristiwa perampokan yang menimpanya pada 12 Desember 2022 lalu. Hal itu dia sampaikan saat menjadi saksi saksi dalam persidangan yang mendudukkan Samanhudi sebagai Terdakwa.
Sebelumnya, Santoso mengaku bahwa dia mengenal Terdakwa hingga menjadi partner dalam memimpin kota Blitar saat itu. Terdakwa, kata Santoso, dia kenal sejak lama. Tepatnya saat dia menjabat sebagai Sekertaris Dewan (Sekwan) dan Samanhudi sebagai Ketua DPRD Blitar.
“Kenalan dengan terdakwa sejak saya menjadi Sekwan dan beliau menjadi Ketua DRPD, saat itu saya sekretaris dewan,” kata Santoso saat sidang offline di Ruang Cakra, PN Surabaya, Selasa (8/8/2023).
Selama berpartner dengan Terdakwa, kata Santoso, banyak kenangan yang dia rasakan. Tepatnya saat mendampingi Samanhudi selama 2 tahun menjabat. Namun, ia tak menjelaskan secara detail lantaran tak berkaitan dengan kasus yang dialami.
“Saya sebagai pembantu di dewan dan sejak di sekda, lalu wakil Wali Kota hingga terakhir saat ini (Wali Kota). Saya mendampingi beliau selama 2 tahun,” ujarnya.
“Sebelumnya saya adalah Wakil Wali Kota Blitar, lalu menjadi Wali Kota sampai dengan sekarang,” imbuh dia.
BACA JUGA:
Walikota Blitar dan Mantan Berpelukan di Ruang Sidang
Santoso kemudian menceritakan peristiwa perampokan yang terjadi pada 12 Desember 2022 silam di kamar rumah dinas Wali Kota Blitar sekitar pukul 03.00 WIB.
Kala itu, ia mengaku tertidur pukul 02.00 WIB. Namun, saat istrinya sedang salat tahajud, sekitar pukul 03.00 WIB, tiba-tiba pintu sisi timur ada seseorang yang berusaha mendobrak.
Lantaran takut, Santoso dibangunkan oleh istrinya. Dalam posisi setengah sadar, ia mengira kejadian itu hanya getaran lindu atau gempa saja. Namun, saat dikroscek betapa terkejutnya Santoso lantaran perampok sudah mendobrak pintu timur kamarnya dan masuk ke ruangan.
BACA JUGA:
Mantan Istri ke 2 Samanhudi Anwar Nyaleg PPP di Kota Blitar
Ia mengaku sempat mengunci pintu kamarnya. Namun berhasil didobrak.
“Saya berada di kamar langsung disergap diminta tiarap, ada 2 orang yang 1 menyergap Istri. Saya diminta tertelungkup di lantai, tangan mulut dilakban, lalu tangan kaki diikat ke belakang,” papar dia.
Mendengar hal itu, Samanhudi hanya tersenyum. Matanya masih menatap tajam ke arah Santoso.
“Saya diminta tertelungkup di lantai, tangan dan mulut dilakban, tangan kaki diikat ke belakang. Jumlahnya sekitar 3 orang, 2 itu yang menyergap saya dan 1 menyergap istri. Saya tidak melihat wajah pelaku karena lampu mati,” jelasnya.
Saat diminta menunjukkan brankas, ia mengaku tidak memiliki. Lalu, para perampok mengancam bila tidak menunjukkan, maka istri akan ditelanjangi.
BACA JUGA:
Pra Peradilan Samanhudi Anwar Ditolak Hakim PN Blitar
Akibat ancaman itu, Santoso kian ketakutan. Dia kukuh mengaku memang tidak memiliki brankas.
“Saya memang tidak punya brankas kecuali tas kecil yang saya simpan di lemari pakaian dan tidak dikunci. Lalu uang itu diambil. Saya tidak tahu siapa yang ngambil karena saya tertelungkup di lantai. Lalu diacak-acak diambil uang dan barang-barang lainnya,” tuturnya.
Selain uang dalam almari, Santoso mengaku jam tangan, kacamata, hingga beberapa perhiasan milik istrinya raib. Ia menyebut, total kerugian sekitar Rp 400 juta. [uci/but]






