Banyuwangi (beritajatim.com) – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut, masih ada masalah stunting di daerahnya. Meskipun upaya penanganan tersebut terus digenjot untuk menekan angka stunting tidak meningkat.
Berbagai sebab stunting muncul di tengah masyarakat Banyuwangi saat ini. Kondisi ini jelas menjadi ancaman jika tak serius melakukan penanganan.
Menurut Ipuk, permasalahan stunting masih menjadi kendala besar dalam menyiapkan generasi unggul dan kompetitif. Untuk itu, percepatan penanganannya harus terus digencarkan.
Ipuk menyebut, saat ini prevalensi stunting di Banyuwangi adalah 20 persen, lebih rendah dibanding rata-rata kabupaten/kota se-Jatim yang sebesar 23,5 persen.
“Tapi kita punya mimpi di tahun 2024, angka stunting Banyuwangi di bawah 14 persen, atau bahkan zero pada beberapa tahun lagi ke depannya,” terang Bupati Ipuk.
Pemerintah daerah tak berhenti melakukan langkah, salah satunya meluncurkan program Banyuwangi Tanggap Stunting (BTS). Program ini berhasil menekan angka balita kekurangan gizi di Banyuwangi.
Hasilnya, pada 2021 tercatat 4.371 kasus stunting. Namun kini jumlahnya telah turun hingga 2.704 kasus selama 2022.
Salah satu yang dilakukan dalam program BTS ini, kata Ipuk, adalah pemberian makanan tambahan (PMT) secara rutin kepada anak-anak penderita stunting maupun yang berpotensi mengalami stunting.
“Sebulan sekali, kita juga gerakkan ribuan ASN untuk belanja makanan bergizi untuk lewat Hari Belanja UMKM, hasilnya kita donasikan untuk penanganan stunting,” kata Ipuk.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-banyuwangi”]
Bahkan, pemkab mengajak Dinas Pertanian dan Pangan untuk memberikan bantuan bibit sayuran yang diberikan kepada orang tua balita stunting.
“Selain PMT, mereka juga diintervensi sesuai faktor penyebabnya. Misalnya, dibangunkan MCK jika alasan stunting karena lingkungan,” kata Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Banyuwangi Amir Hidayat.
Selain penanganan, Pemkab juga telah melakukan sejumlah upaya preventif. Mulai melakukan pendampingan kepada remaja putri, calon pengantin, hingga ibu hamil beresiko tinggi. (rin/ted)






