Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Brawijaya yang berjumlah empat orang sukses membuat alat bernama Visual Mate atau Vismate. Alat ini menjadi alternatif bagi penyandang disabilitas tuna Netra dalam komunikasi maupun mobilisasi.
Empat mahasiswa, yaitu Beni Kurniawan (Teknik Elektro), M. Dwi Nur Afini (Teknik Elektro), M. Rashannaufal G (Elektro), dan M. Bintang Saktya (Sistem Informasi) dibimbing oleh Ir. Nurussa’adah M.T. Menariknya alat ini terintegrasi dengan Internet of Things menggunakan interface aplikasi berbasis android.
“Pada aplikasi ini terdapat fitur tracking untuk memudahkan pengguna dengan keluarga dalam pemantauan jarak jauh secara realtime. Terdapat fitur untuk memudahkan pengguna yaitu deteksi hambatan dijalan untuk mengarahkan pengguna agar tidak terjadi kecelakaan,” ujar Beni, melalui keterangan tertulis, Kamis 5 Oktober 2023.
Baca Juga: Jenazah Tamu Blackhole KTV Langsung Dibawa Pulang ke Jawa Barat
Beni menambahkan bahwa deteksi rintangan atau hambatan diperoleh dari pengukuran oleh sensor jarak ToF (Time of Flight). Alat ini juga dibekali kamera yang berfungsi untuk menerjemahkan foto ke dalam bentuk tulisan dengan menggunakan metode image recognition.
” Tulisan akan di terjemahkan dengan suara (text to speech) sehingga memudahkan interaksi antara penderita tunanetra dengan tunarungu,” ujar mahasiswa dari Fakultas Teknik ini.
Menurut Beni, penyandang disabilitas merupakan kondisi saat seseorang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dapat menghambat interaksi dengan lingkungan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta orang atau 5% dari penduduk Indonesia.
Baca Juga: Ketua DPRD Sampaikan Surat Pemberitahuan Masa Jabatan Bupati Sampang Segera Berakhir
“Salah satu jenis disabilitas yang umum ditemukan pada kalangan masyarakat adalah penyandang tunanetra. Kendala yang umum dialami penyandang disabilitas tunanetra adalah kendala artitektural yang disebabkan oleh kondisi fisik,” ujarnya.
Terkadang, lanjut Beni, lingkungan kurang mendukung untuk diakses oleh penyandang disabilitas seperti kesulitan mengakses media cetak yang tidak dilengkapi dengan huruf braille atau petunjuk taktual (dapat diraba). Hal ini cukup menyulitkan tunanetra untuk mendapat informasi yang dibutuhkan dari media cetak tanpa bantuan dari orang lain.
Selain kendala untuk memperoleh informasi, penyandang tunanetra memerlukan alat bantu untuk menolong mereka dalam bermobilisasi. Dalam hal komunikasi penyandang tunanetra punya kendala saat perlu berkomunikasi dengan penyandang tunarungu wicara.
Baca Juga: RS Surabaya Timur Mulai Dibangun, Eri Cahyadi: Komitmen Pemerataan Pelayanan Kesehatan
Vismate diharapkan menjadi sahabat disabilitas dengan banyaknya fitur dari berbagai sensor. “Alat kami ini membantu penyandang tunarungu untuk sarana berkomunikasi baik dengan penyandang lain maupun khalayak dengan aplikasi smartphone yang terintegrasi Internet of Things,” kata Beni mengakhiri. (dan/ian)






