Surabaya (beritajatim.com) – Kemunculan grup Facebook ‘Fantasi Sedarah’, yang memuat konten pedofilia dan inses, menggemparkan dunia maya. Pakar Anak Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya Holy Ichda Wahyuni melihat hal ini sebagai ancaman serius bagi keselamatan anak.
Holy prihatin dan mendorong adanya edukasi seksual dini sebagai benteng perlindungan anak. Ia menegaskan bahwa ini bukan hanya pelanggaran moral, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan anak, yang semakin rentan terhadap kekerasan seksual. Nama grup tersebut saja sudah cukup menggambarkan betapa mengerikannya konten di dalamnya.
Ironisnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman seringkali justru menjadi lokasi kekerasan seksual terhadap anak. Pelakunya pun kerap kali adalah orang terdekat, seperti ayah kandung, ayah tiri, atau anggota keluarga lainnya.
Ia menyebut, ancaman dan rasa takut membuat anak-anak bungkam, sehingga kekerasan terus berlanjut tanpa terdeteksi. “Ini situasi darurat,” tegas Holy, Sabtu (17/5/2025).
Ia mengkritik budaya tabu yang selama ini menghalangi pembahasan terbuka tentang isu seksual dalam keluarga. “Karena terlalu bungkam, predator itu leluasa mencari celah. Kita tak bisa lagi menunda edukasi seksual sejak dini,” katanya.
Menurut Holy, edukasi seksual dini bukan sekadar tentang hubungan biologis, melainkan pemahaman komprehensif tentang tubuh, privasi, batasan diri, dan cara mengenali sentuhan yang tidak pantas. Anak-anak perlu diajarkan untuk memiliki kuasa atas tubuh mereka sendiri dan berani menolak siapa pun, termasuk orang dewasa.
Orang tua memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar penyedia kebutuhan materi. Mereka harus menjadi pendengar yang empatik dan membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak. Anak harus merasa aman dan nyaman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau direndahkan.
Perubahan perilaku anak, seperti murung, mudah marah, atau gangguan tidur, seringkali diabaikan. Padahal, ini bisa menjadi indikasi trauma kekerasan seksual. Holy mengingatkan agar orang tua tak salah mengartikan perubahan tersebut sebagai fase nakal atau pubertas.
“Padahal, bisa jadi itu adalah bentuk trauma dan respon alami anak karena tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana,” ungkap Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan tersebut.
Holy juga menyayangkan masih banyak kasus kekerasan seksual yang disembunyikan demi menjaga nama baik keluarga. Menurutnya, hal ini justru memperpanjang lingkaran kekerasan. Ia berharap masyarakat berani melawan budaya tabu ini dan melaporkan setiap kasus kekerasan seksual terhadap anak. [ipl/ian]






