Malang (beritajatim.com) – Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) yang berlangsung di Universitas Negeri Malang (UM) dijaga secara ketat. Ada penjagaan dari petugas teknis, pengawas ruangan, dan kamera CCTV di setiap ruangan.
Hal itu, kata Rektor UM, dilakukan untuk antisipasi kemungkinan adanya kecurangan saat pengerjaan UTBK. “Antisipasi kecurangan, yang pertama adalah petugas teknis dan pengawas sudah dibekali pola kecurangan seperti permainan joki dan lainnya, sudah kami sampaikan pada petugas minggu lalu,” kata Prof Hariyono, M.Pd pada media, Senin (8/5/2023).
Rektor UM menegaskan, pengawas ruangan akan terus mengawasi calon mahasiswa, oleh karena itu jumlah pengawas banyak dan sangat ketat. Setiap mahasiswa (tiap linenya) ada petugas teknis sehingga jika ada jawaban yang aneh dapat diketahui melalui komputer petugas teknis.
“Pengawas ruangan juga mengawasi gerak gerik calon mahasiswa saat mengerjakan UTBK. Insyaallah kita bisa mengawasi dan melaksanakan proses seleksi ini dengan cara yang lebih baik. Sehingga mereka yang kemungkinan menggunakan joki bisa kita antisipasi,” ujarnya.
Selain itu, pada tiap ruang sudah dilengkapi dengan ada. Kecurangan pun dapat terlihat, jika calon mahasiswa yang dicurigai ketahuan maka akan di kroscek pada petugas teknisi yang mengawasi komputer.

“Bagi teman teman yang ahli komputer itu sudah bisa ketahuan. Ada proses yang benar benar alami atau ada yang mengendalikan dari luar. Pengawas di ruangan akan melihat gerak gerik mahasiswa. Dan itu didukung oleh CCTV yang ada di setiap ruangan,” katanya.
Disinggung terkait pengaman oleh aparat kepolisian, Prof Hariyono menjelaskan jika aparat tetap ada, tetapi harus di luar ruangan. UM ingin agar para pengaman juga sadar bahwa tes seleksi tidak sampai menakuti calon mahasiswa.
“Apalagi ada tes seleksi yang memungkinkan aparat membawa senjata api atau yang lain itu kita sudah sampaikan tidak ada. Kalau nanti ada kecurangan calon yang bersangkutan nanti kita ajak ke ruang pengawas, dan kemudian yang bersangkutan kita konfirmasi . Dari hasil konfirmasi kalau terbukti baru kemudian dibawa ke aparat keamanan dalam hal ini teman-teman polisi,” ujar Prof Hariyono.
Rektor UM berharap agar calon mahasiswa dapat mengerjakan tes dengan tulis dengan baik.UM pun akan melakukan proses seleksi dengan maksimal. Menurutnya, jika memperoleh mahasiswa yang berkualitas potensi untuk mengembangkan keilmuan maupun bidang yang digeluti bisa lebih baik.
“Proses seleksi ini akan dilakukan dengan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk mencari mahasiswa yang benar benar qualified. Dari 29.000 calon mahasiswa itu nanti yang diterima sekitar 2.400 dalam seleksi,” katanya.
https://beritajatim.com/olahraga/dilepas-madura-united-eks-timnas-u-19-menuju-persebaya/
Fasilitas yang ada di UM pun, menurut Rektor, sudah cukup memadai. Oleh karena itu, mulai tahun ini seleksi mahasiswa berdasarkan tes tulis dilakukan UM tanpa melibatkan perguruan tinggi lain.
Pada pelaksanaan hari pertama ini, memang masih ada satu dua yang terlambat. Namun masih pihak UM masih memberi kesempatan. Hal itu kata Rektor, agar calon mahasiswa bisa mendapat haknya.
“Yang terlambat asal tidak melebihi batas waktu yang ditentukan bisa mendapat hak nya. Mungkin lambat karena salah ruang, atau kesulitan mencari ruang. Tapi kalau sudah melewati waktu yang ditentukan konsekuensinya yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti tes seleksi. Toleransi keterlambatan sampai pelaksanaan simulasi,” pungkas Rektor UM. [dan/but]






