Ponorogo (beritajatim.com) – Terus berinovasi dan bisa membaca peluang yang ada. Hal itulah yang membuat pasangan suami istri (pasutri) Jainal Arifin dan Ehtiari Purweni bisa survive di usaha mikro kecil menengah (UMKM) mendong. Ya, sudah lama warga Desa Plancungan, Kecamatan Slahung, Ponorogo itu bergelut diusaha pembuatan tikar dari bahan mendong (salah satu jenis rumput yang hidup di rawa).
Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan pasar akan tikar mendong mulai lesu. Seiring adanya gempuran tikar yang berbahan plastik masuk toko-toko di Ponorogo. Tidak patah arang bahkan juga tidak putus asa, pasutri itu putar haluan untuk membuat kerajinan tas. Bahan untuk membuat kerajinan tasnya pun sama, yakni dengan menggunakan bahan mendong seperti tikar buatannya.
“Tikar mendong saat ini sepi, sedikit peminatnya. Masyarakat sekarang lebih memilih tikar dari plastik atau karpet,” kata Ehtiari Purweni, Sabtu (07/01/2022).
Banyaknya tikar mendong yang belum laku terjual, membuat Ehtiari Purweni mengalihkan tikar mendong itu untuk dibuat kerajinan tas. Hasil dari kreasinya itupun diluar dugaannya. Ternyata omset dari penjualan kerajinan tas-tasnya itu mencapai puluhan juta. Jauh dibandingkan jika dibuat tikar.
Karena lebih menjanjikan dan prospektif, pasutri ini juga mengajak perajin mendong lainnya untuk melakukan kerjasama. “Karena omzetnya bagus, kita hubungi pengrajin mendong lainnya untuk bekerjasama,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”umkm-ponorogo”]
Pembuatan kerajinan tas anyaman mendong ini, sudah dijalani Ehtiari Purweni dan suaminya sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Tikar mendong yang telah jadi dibuat, akhirnya diubah untuk membuat tas. Nah, untuk pekerjaan ini, pasutri ini berbagi tugas. Ehtiari Purweni menyiapkan potongan mendong sesuai pola maupun kebutuhan. Sedangkan suaminya mengerjakan proses menjahit.
“Agar lebih kuat dan tidak mudah rusak, anyaman mendong ini dilapisi busa pada bagian dalamnya. Hal itu juga supaya tas cenderung lebih tebal dan nyaman dipakai,” ungkapannya.
Dengan dibantu dua orang karyawan, usaha yang mereka geluti ini mampu memproduksi hingga 20 tas dalam sehari. Sementara untuk mendapatkan stok tikar mendong, mereka bekerjasama dengan sejumlah perajin tikar di sekitar rumahnya. Harga tas mendong hasil kreasi pasutri asal Ponorogo ini, dihargai mulai Rp 35 ribu hingga Rp 150 ribu.
Selain dipasarkan secara konvensional di toko-toko, tas mendong buatan IkhtiariEhtiari Purweni dan Jainal Arifin juga dipasarkan secara online. “Kalau sedang ramai, sebulan omzetnya bisa mencapai Rp 25 juta,” pungkasnya. [end/suf]






