Magetan (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan kendala dalam pemadaman kebakaran hutan di Gunung Lawu baik di Ngawi dan Magetan.
Medan Gunung Lawu yang terjal dan sudah dijangkau oleh petugas membuat pemadaman hanya bisa memungkinkan menggunakan water bombing di kawasan yang tak terjangkau.
Dibanding dengan Gunung Bromo, kawasan Gunung Lawu lebih terjal. Sehingga, Karhutla Gunung Lawu berlangsung berhari-hari.
“Bromo lebih cepat karena tidak terlalu tinggi, support relawan. Mobil tangki bisa disiagakan, kemiringan tidak terlalu terjal, secara manual efektif untuk dipadamkan. Sementara, Gunung Lawu harus menggunakan water bombing,” kata mantan Menteri Sosial itu.
Baca Juga: Kejari Surabaya Siapkan 4 Jaksa Untuk Teliti Berkas Ronald Tannur
Saat ini, pemadaman karhutla di Gunung Lawu di wilayah Magetan masih berlangsung. Pada Rabu (11/10/2023), masih terus dilakukan water bombing dengan 15 siraman di petak 73 masuk RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, KPH Lawu Ds.
Sebelumnya diberitakan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertandang langsung ke Posko Satgas Penanganan Karhutla Gunung Lawu di Kantor Desa Ngiliran, Panekan, Magetan, Jawa Timur, Selasa (10/10/2023).
Baca Juga: Inilah Inovasi DPKH Lamongan untuk Jawab Permasalahan Pupuk
Usai bertemu dengan tim di Dapur Umum Tagana Dinas Sosial Magetan, mantan Menteri Sosial RI itu mengecek pemetaan titik api bersama Perhutani KPH Lawu Ds.
Dari hasil koordinasinya didapati jika kondisi hutan lindung rusak terbakar. Khofifah mengatakan, pihaknya bakal melakukan aero seeding atau penebaran benih lewat udara untuk reboisasi hutan Gunung Lawu pasca terbakar.
“Karena terkendala medan yang terjal ya, maka perlu aero seeding. Kalau Lawu apabila ada titik-titik tertentu yang harus dilakukan penanaman kembali pemprov sudah 2 kali melakukan aeroseeding. Kalau musim hujan bisa dilakukan dengan titik tertentu dan bibit tertentu. Nanti kami lihat proses asesmer berikutnya, supaya hutan hutan pernah ada tanaman tanaman varian keragaman hayati,” kata Khofifah.
Baca Juga: Sleman Gelontor Beasiswa Ratusan Juta untuk Pendidikan Calon Nakes
Menurutnya, dengan keterjalan tertentu membutuhkan teknik tertentu untuk bisa menumbuhkan kembali habitat yang ada di daerah pegunungan. Daya dukung lingkungan harus tetap dimaksimalkan.
“Terkait dengan karhutla, memang El Nino menimbulkan kemarau kekeringan. Jadi memerlukan kewaspadaan dan mitigasi lebih komprehensif. Yang terjadi di Gunung Lawu ketika terjadi kebakaran tanggal 1 Oktober 2023, kemarin kami memang berusaha melakukan deteksi dari titik keterjalan area yang bisa dijangkau secara manual. Mulai dari luas lahan dan membutuhkan support pemadaman melalui water bombing di titik mana,” lanjutnya.
Saat ini, tim dari BNPB sudah datang melakukan deteksi titik titik koordinat dan langsung water bombing karena cuaca dan berjalan. Pada Selasa (10/10/2023) pukul 15.27 WIB, sudah 5 rit atau 5 kali siraman water bombing. “Sehari bisa sampai 15 kali,” pungkasnya. [fiq/ian]






