Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) bersama Shimadzu Corporation Japan mewujudkan ekosistem industri halal. Agenda tersebut dikemas dalam kegiatan internasional 1st Asia Halal Summit 2023 yang diprakarsai oleh Lembaga Sentra Ilmu Hayati (LSIH) UB bersama Shimadzu Corporation Japan.
Rektor UB, Prof. Widodo Ph.D., menjelaskan, UB punya latar belakang bersejarah dalam penjaminan produk halal di Indonesia. Hal itu dimulai dari inisiasi penelitian guru besar pangan UB Prof. Dr. Ir. Tri Susanto tahun 1988 yang mengungkap adanya gelatin, shortening lecithin maupun lemak babi pada produk makanan, sehingga saat itu merupakan momen lahirnya sertifikasi halal Indonesia.
“Sampai sekarang UB sudah menindaklanjuti kajian tentang produk halal mulai melalui Pusat Studi Halal Thoyyib (Halal Thoyyib Science Center) untuk melakukan edukasi pada masyarakat dengan penyelenggaraan seminar, workshop, conference hingga kerjasama internasional,” ujar Prof. Widodo.
https://beritajatim.com/berita-redaksi/hut-beritajatim-dan-harapan-besar-di-usia-17-tahun/
Konferensi 1st Asia Halal Summit 2023 menjadikan kesempatan bagi cendekiawan muslim, ulama, peneliti, akademisi hingga praktisi untuk turut bersama menggerakan ekosistem halal di hampir sektor industri. Mengingat banyak produk barang dan makanan dikonsumsi saat ini melewati berbagai proses produksi yang kompleks.
“Namun di sisi lain perlunya aspek pertimbangan dalam memastikan produksi barang atau makanan agar dapat terverifikasi kehalalannya, membangun penyimpanan dan penyediaan produk sesuai sudut pandang hukum Islam,” ujar Rektor UB.
Acara ini juga memperkenalkan produk yang berhubungan dengan riset halal center di UB. Ada mesin pengolah madu, bubuk madu serta mesin dealkoholisasi yang diproduksi oleh PT. Brawijaya Smart Industry, hingga Halal Care PCR kit dan PCR Mobile Lab buatan UB Halal Research Team bekerjasama dengan PT. Biocare Sejahtera.
Dave Chua, Executive Officer and Senior General Manager Shimadzu Singapore mengungkapkan tiga kategori pendekatan halal analysis yang saat ini bukan hanya mengacu pada kesehatan pangan (food safety). Namun lebih kepada keamanan dan perlindungan pangan (food security), yaitu halalan, toyyiban serta etika pengujian (ethics testing).
https://beritajatim.com/berita-redaksi/arumi-bachsin-apresiasi-jatim-pr-award-di-hut-ke-17-beritajatim/
“Acara ini sebagau komitmen bersama dalam mengembangkan ekosistem halal yang fokusnya pada metode proses identifikasi halal, kecerdasan buatan (AI) serta teknologi digital. Sebagai contoh Shimadzu melakukan pendekatan ilmiah dengan analisa berbagai kandungan produk pangan maupun olahan yang tidak diperbolehkan secara spesifik memakai deteksi fragmen DNA pada platform PCR-MultiNA guna membantu deteksi porcine dan otentikasi daging hewan,” ujarnya.
Selain itu, Shimadzu turut menganalisa komponen-komponen lain seperti alkohol juga pestisida dalam matriks makanan. “Bagian dari kerjasama ini kami membantu program sertifikasi (ISO-17025 certified halal testing lab) dengan kampus UB dengan berbagai dukungan pengembangan inovasi dan teknologi terbaru agar nanti kami bisa memenuhi standar industri halal di seluruh dunia,” tukas Dave. [dan/but]






