Surabaya (beritajatim.com) – Ilmu Komunikasi FISIP Unair Surabaya dengan Bioskop Online menggelar Edukasi Perfilman ‘Antar Kota Antar Sinema’ bersama Angga Dwimas Sasongko dan Ajeng Parameswari.
Ketua Departemen Komunikasi, Titik Puji Rahayu menilai acara tersebut sangat relevan dengan bidang kajian komunikasi yang dikembangkan oleh pihaknya di Departemen Komunikasi Unair.
“Kami mengajak mahasiswa mempelajari substansi dan teknis sinematografi. Kami menjadikan film sebagai salah satu bidang kajian kami. Semoga kerja sama ini lancar dan tidak berhenti sampai di sini saja,” ujar Titik, ditulis Minggu (26/2/2023).
BACA JUGA:
Rektor Unair Ajak Kstaria Airlangga Mengenal NU Lewat Konser 1001 Malam
Dirinya berharap kerja sama dengan Bioskop Online tersebut tidak hanya bermanfaat bagi internal saja namun juga seluruh pihak yang mengikuti kegiatan.
Sementara itu, dalam paparannya Angga menyampaikan bahwa film personal dapat diolah dengan pendekatan cerita universal. Sehingga, mungkin saja menemui peminatnya dan menjadi popular di tengah masyarakat.
Menurutnya, film personal kerap dipakai untuk menyebut film yang isinya didominasi preferensi personal dari si pembuat film. Angga pun menekankan pada penggiat film untuk melakukan sesuatu yang diyakini saja, ketimbang menuruti keinginan orang lain.
BACA JUGA:
Masuk Unair Bisa Lewat Jalur Golden Tiket, Berikut Syaratnya
“Dalam membuat film, do something you believe in. Rather than what other people want,” ujarnya.
Sutradara sekaligus Founder dan CEO Visinema Group tersebut meyakinkan seluruh peserta untuk membangun story dalam film lebih penting daripada memikirkan tools yang sering menjadi penghambat dalam membuat film personal.
“Mindset yang pertama kali harus dibangun saat kita membuat film bukanlah hal-hal teknis seperti kameranya apa, lensanya apa. Hal-hal seperti itu hanya tools yang mendukung. Yang paling penting adalah the story itself, to become a great storyteller,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Cara Universitas Airlangga Surabaya Kenang Perjuangan Melawan Covid-19
Sedangkan Ajeng mengatakan, potensi industri film Indonesia akan sangat cerah, lantaran Indonesia memiliki kurang lebih 200 juta penduduk. Sedangkan jumlah layar yang tersedia masih sebanyak 2.000.
“Namun, challenge yang harus dihadapi ke depan, jangan sampai kita jadi quantity over quality. Jangan sampai kita sudah buat karya banyak, tetapi kita mengorbankan kualitas dari film itu sendiri,” jelasnya. [ipl/suf]






